Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani saat ditemui di kediamannya, Jalan Kertanegara No.14, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (8/7/2009).
"Kalau dolar melemah itu yang merugi adalah negara-negara yang pnya reserve dolar banyak seperti Jepang, China, Taiwan, dan Indonesia juga punya. Jadi negara-negara ASEAN itu akan mendapat dampak negatif atau hukuman dari melemahnya dolar, bukan AS yang merasakan," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rintisan-rintisan inisiatif seperti melakukan BSA (Bilateral Swap Agreement) dengan Jepang atau China, itu akan mungkin mengurangi pengurangan dolar tapi tidak bisa cepat," ujarnya.
Kekhawatiran pelemahan dolar AS ini dikatakan Sri Mulyani sudah menjadi pembicaraan internasional.
"Dengan utang AS yang begitu tinggi, The Fed melakukan pembelian aset-aset perbankan yang jelek, pencetakan dolar ke seluruh dunia akan jadi banyak sehingga orang melihat cuma ada dua, inflasi AS meningkat dan dolar terdepresiasi. Namun karena dolar memegang posisi unik di dunia sebagai global currency maka orang melihat apakah ada solusi jangka pendek," paparnya.
Akan tetapi, Sri Mulyani mengatakan justru ada persepsi yang bias di Indonesia, karena selama ini pelemahan dolar dianggap lebih positif
"Tapi semua juga tahu kalau rupiah menguat, dolar melemah, eksportir kita akan terkena," ujarnya.
Karena itu pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjalankan kebijakan mata uangnya akan dinamis dan berhati-hati agar pergerakan mata uang tidak merugikan pihak tertentu.
"Policy-nya selalu dinamis karena kondisi selalu ekonomi dinamis," imbuh Sri Mulyani.
(dnl/qom)











































