"Kemungkinan besar kerugiannya tak sebesar kemarin (tahun lalu). Tapi kita lihat saja laporannya," ujar Sekretaris Perusahaan PGN Wahid Sutopo di Kantor Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (13/7/2009).
Sayangnya, ia belum dapat menyebutkan jumlah potensi kerugian yang bakal diderita emiten berkode PGAS tersebut. Pihaknya masih akan menunggu nilai selisih kurs hingga triwulan IV-2009.
Untuk mengantisipasi kerugian kurs yang terus berlanjut, perseroan sudah mengajukan untuk memakai laporan keuangan dalam bentuk Dolar Amerika. Menurutnya, hingga saat ini BUMN gas itu masih melakukan kajian sambil menunggu keputusan dari pemerintah.
"Kami harapkan sesegera mungkin, kajiannya, prosesnya, prosedurnya. dan lain-lain," katanya.
Hingga akhir tahun 2008, perusahaan plat merah tersebut mengalami penurunan laba bersih yang cukup besar akibat rugi selisih kurs. Rugi kurs tersebut sangat besar hingga Rp 2,508 triliun. Sedangkan di akhir tahun 2007, rugi kurs sebesar Rp 504,224 miliar.
"Kalau sudah pakai (laporan keuangan) Dolar, kemungkinan tidak akan terjadi lagi (rugi selisih kurs)," imbuhnya.
(ang/dro)











































