Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono menegaskan, penguatan rupiah hari ini disebabkan oleh kondisi perekonomian yang sudah membaik serta kesepahaman pasar akan membaiknya ekonomi Indonesia pasca ledakan Bom kemarin.
"Pagi ini rupiah menguat bukan intervensi BI, sekalipun intervensi memang sangat diperlukan, dan kemarin pasca ledakan bom banyak perbankan yang menahan pengeluarannya," jelas Hartadi usai Peresmian Musium BI di Jakarta, Selasa (21/07/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Maka intervensi dilakukan untuk menjaga normalitas pasar uang dan menjaga keseimbangan suplai dan demand serta mencegah kepanikan pelaku pasar. Dan kemarin memang pasca ledakan bom ada intervensi sedikit dari BI tapi tidak banyak," paparnya.
Hartadi mengungkapkan, intervensi dilakukan pada awal-awal perdagangan hari Jumat atau sekitar pukul 10-00 WIB sampai 11-00 WIB.
"Pada waktu itu suplai tertahan, padahal utang, impor harus segera dibayar, nah disitu kita masuk," katanya.
BI memang mempunyai tugas untuk menjaga volatilitas nilai mata uang, sehingga ketika terdapat kekurangan suplai, BI akan 'beraksi' untuk menutupi kekurangan tersebut.
Hartadi juga mengatakan bahwa rupiah sampai akhir tahun 2009 diproyeksikan bisa menembus level Rp 10.000 per dolar AS.
"Selain itu, inflasi bulan Juli diperkirakan sekitar 3 persen (year on year) dibandingkan bulan yang sama tahun 2008," ujarnya.
Hal tersebut, lanjut Hartadi, karena Indonesia mempunyai prospek yang bagus dan recovery ekonomi global yang mulai berjalan.
(dru/qom)











































