Pada perdagangan Rabu (5/8/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah tipis 39,22 poin (0,42%) ke level 9.280,97. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah tipis 2,93 poin (0,29%) ke level 1.002,72 dan Nasdaq melemah 18,26 poin (0,91%) ke level 1.993,05.
Pelemahan ini terjadi setelah Wall Street mengalami rally selama 4 hari berturut-turut hingga mencapai rekor tertingginya sepanjang tahun 2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Departemen Tenaga Kerja AS juga akan melaporkan angka pengangguran Juli pada Jumat ini. Namun ekonom memperkirakan akan terjadi PHK sebesar 320.000.
"Data itu mengingatkan setiap orang bahwa proses pemulihan ekonomi tidak merata dan tidak semua poin data akan berada pada arah yang bersahabat pada pasar," ujar Jeff Kleintop, kepala strategis pasar LPL Financial seperti dikutip dari Reuters, Kamis (6/8/2009).
Laporan keuangan yang mengecewakan juga menggelayuti pasar. Raksasa produk konsumer, Procter & Gamble menjadi penyeret penurunan terbesar di Dow Jones setelah mencatat penurunan penjualan selama kuartal II. Saham P&G tercatat turun hingga 2,8%.
Perdagangan berjalan cukup aktif, dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 1,88 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang menacpai 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi mencapai 2,41 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar.
Harga Minyak Naik Lagi
Setelah sempat mengalami koreksi, harga minyak mentah dunia kembali menanjak seiring pelemahan dolar AS. Pelemahan mata uang itu membuat komoditas minyak yang berdenominasi dolar AS terasa murah.
Pada perdagangan di New York, kontrak utama minyak light sweet pengiriman September naik 55 sen menjadi US$ 71,97 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman September naik 1,23 dolar menjadi US$ 75,5 per barel yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan Oktober.
(qom/qom)











































