Saham Antam di Titik Jenuh

Saham Antam di Titik Jenuh

- detikFinance
Kamis, 06 Agu 2009 11:23 WIB
Saham Antam di Titik Jenuh
Jakarta - Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terus menanjak mengikuti tren penguatan harga-harga komoditas. Namun harga saham ANTM kini sudah memasuki titik jenuh dengan downside risk yang besar.

Pada perdagangan Kamis (6/8/2009) pukul 11.10 waktu JATA, harga saham ANTM tercatat naik Rp 25 menjadi Rp 2.325. Harga saham ANTM mencapai titik tertingginya sepanjang 2009 pada Juni pada Rp 2.375. Saham ANTM setelah stock split pada Juli 2007 pernah mencapai titik tertinggi di Rp 3.800 pada 14 Februari 2008.

ANTM sebelumnya melaporkan selama semester pertama tahun ini mencatat penurunan penjualan sebesar 16%. Penurunan tersebut akibat penurunan volume penjualan dan harga jual rata-rata beberapa produk. Penurunan volume produksi dan penjualan nickel menurut manajemen diakibatkan berhentinya operasi dari pabrik FeNi III. Pabrik tersebut diharapkan akan kembali beroperasi pada kuartal terakhir tahun ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada semester pertama tahun lalu produk nickel berkontribusi 77% dari total penjualan ANTM. Semester pertama tahun ini emas menjadi kontributor utama akibat kecenderungan stabilnya harga emas dan meningkatnya volume penjualan emas secara signifikan.

Diversifikasi produk menyebabkan penjualan ANTM pada semester ini tidak turun setajam industri logam lainnya di dalam negeri.

"Namun demikian harga saham ANTM menurut kami telah melampaui nilai wajarnya. Dengan target price 12 bulan sebesar Rp 1.520 per saham kami memberikan rekomendasi SELL," demikian rekomendasi dari Sucorinvest.

Hal senada disampaikan Bernard Thien, President Director PT CIMB-GK Securities Indonesia dalam review-nya untuk ANTM. Menurutnya, pendapatan ANTM semester I-2009 memang di atas angka hitungan CIMB-GK Securities Indonesia namun di atas konsensus.

"Beban biaya merupakan salah satu yang menjadi perhatian. Cash cost ANTM telah turun jauh dibawah $4.5/ton sehingga menyebabkan margin dan laba bersih yang lebih tinggi pada 2H09, didukung oleh kenaikan harga nickel," jelasnya.

"Kami menurunkan rating Aneka Tambang (ANTM) dari outperform menjadi UNDERPERFORM dengan target harga Rp1700 (dari sebelumnya Rp 1280) setelah menaikan EPS FY90-11 sebesar 11-14% dan menurunkan WACC menjadi 14%. Pada harga saat ini, saham ANTM tersebut telah mereflesikan skenario bullish, yaitu harga
nickel lebih dari $22k/ton vs harga saat ini $19.3k/ton dan PE yang terlalu tinggi sehingga downside risk sangat besar," jelas Bernard.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads