Rencananya, perseroan akan mulai listed di Bursa Efek Indonesia (BEI) per tanggal 15 Desember 2009. Dana hasil IPO yang ditargetkan mencapai Rp 2,5 triliun akan digunakan untuk memperkuat struktur modal BTN.
Demikian dikatakan oleh Direktur BTN, Saut Pardede dalam konferensi pers kinerja keuangan BTN semester I-2009 di Hotel Mulia, Jakarta, Selasa (08/09/2009) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, persiapan IPO kini sudah sangat matang. Setelah izin DPR sudah dikantongi, sosialisasi melalui roadshow rencananya akan dilakukan pada November ke kota-kota dengan potensi pasar domestik yang besar. BTN juga melakukan sosialisasi internal disamping juga kuasi reorganisasi.
"Sementara itu, lembaga atau penunjang IPO juga telah ditunjuk oleh BTN dan telah mendapatkan persetujuan Meneg BUMN," ungkapnya.
Bertindak sebagai penjamin emisi adalah Mandiri Sekuritas dan CIMB Niaga dengan PSS ernst & young sebagai kantor akuntan publik dan Assegaf, Hamzah & pertner sebagai konsultan hukum.
Laba Turun
Dalam kinerja semester I-2009, BTN yang mengalami penurunan laba tipis dibandingkan dengan semester I-2008. Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro menegaskan bahwa hal tersebut terjadi akibat musibah kebakaran gedung kantor pusat BTN.
Dalam neraca publikasi, per 30 Juni 2009 audite, laba perseroan tercatat turun tipis jika dibandingkan posisi laba pada semester I-2008. BTN mencatatkan laba bersihnya sebesar Rp 198 miliar pada semester-I 2009 dan pada semester I-2008 tercatat sampai sebesar Rp 209 miliar.
Hal ini, lanjut Iqbal, pada bulan Ferbruari 2009, perseroan harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 15,8 miliar untuk mempercepat proses recovery gedung berupa investasi dan belanja modal.
"Kami ingin mempercapat recovery supaya bisnis perseroan tetap sustainable dan biaya yang tidak dianggarkan pada tahun 2009 akhirnya menjadi beban biaya di semester I tahun 2009," kata Iqbal lebih lanjut.
Iqbal juga mengatakan, disamping laba yang turun, perseroan pada semester I-2009 berhasil membukukan aset sebesar Rp 48,7 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 24,24 % jika dibandingkan tahun 2008 pada bulan yang sama sebesar Rp 39,2 triliun.
Β
"Sementara posisi kredit juga mengalami pertumbuhan dari Rp 26,2 triliun pada semester I tahun 2008 menjadi Rp 35,8 triliun pada posisi yang sama tahun 2009. Pertumbuha kredit ini mencapai 36,7 persen atau diatas rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional yang hanya sebesar 20 persen," ungkapnya.
BTN juga merevisi pertumbuhan kreditnya tahun 2009 menjadi 25 persen atau Rp 16 triliun.
(dru/qom)











































