Cadangan Habis, Antam Tutup Tambang Bauksit Kijang

Cadangan Habis, Antam Tutup Tambang Bauksit Kijang

- detikFinance
Rabu, 09 Sep 2009 06:08 WIB
Cadangan Habis, Antam Tutup Tambang Bauksit Kijang
Jakarta - Tambang bauksit yang dikelola  PT Aneka Tambang unit Kijang di Tanjung Pinang, akan ditutup akhir September. Langkah itu dilakukan karena cadangan bauksit di tambang tersebut telah habis.

"Selain itu,  Kuasa Pertambangan (KP) kita juga akan selesai akhir bulan ini. Tapi kita masih akan menyelesaikan kewajiban untuk pasca tambangnya," kata Direktur Utama PT ANTAM, Alwinsyah Loebis di Jakarta, Selasa (8/9/2009) malam.

Menurut Alwin, jika kondisi normal tambang di Tanjung Pinang tersebut tersebut bisa memproduksi 1,1 juta ton, namun sejak beberapa waktu lalu, hasil produksinya terus menurun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada semester pertama 2009 misalnya, hasil produksi dari tambang yang sudah dieksplorasi Antam selama 50 tahun tersebut, hanya mencapai sekitar 300 ribu ton.

"Untuk mengganti dari Kijang maka kita akan beralih ke tambang Bauksit kita di Tayan, Kalimantan Barat," jelasnya.

Alwin menjelaskan, saat ini Antam telah  mengekspor bauksit 50 ribu ton dari tambang tersebut hingga bulan Agustus kemarin. Kegiatan produksi di tambang itu, sudah dimulai sejak Maret lalu. Pada tahap awal, tahun ini Antam menargetkan produksi dari tambang tersebut sekitar 300-400 ribu ton per tahun.

"Sebanyak 50 ribu ton sudah diekspor, Sementara   cadangan untuk  tambang milik Antam di  Kalbar,  hampir 100 juta MT. Makanya kita ada proyek Chemical Grade Alumina di situ," ungkapnya.

Antam kini kini juga sedang fokus melakukan evaluasi terhadap beberapa proyek yang sedang dikerjakan Antam yaitu proyek pembangunan pabrik chemical grade alumina di Tayan dan juga PLTU Pomala di Sulawesi Tenggara.

Hal tersebut dilakukan sebagai imbas dari krisis ekonomi global yang telah menyebabkan perhitungan biaya belanja modal membengkak.

"Proyek Tayan awalnya nilai US$ 250 juta. Ketika akan memilih kontraktor ternyata nilainya lebih dari US$ 400 juta. Kita harus review capex karena terlalu besar diharapkan selesai tahun ini. Setelah itu kita tunjuk EPC, lalu masuk ke financing," paparnya.

Kondisi tersebut juga terjadi di proyek PLTU Pomala. Jika sebelum krisis nilai proyek kurang dari US$ 300 juta, namun pasca krisis nilainya melonjak dengan sangat signifikan. Selain mereview dari sisi harga, perseroan juga akan mengevaluasi lokasi untuk tempatkan PLTU.

"Dari studi yang sudah selesai lokasinya sangat jauh dari pabrik sehingga nilai proyek jadi naik. Kita minta lokasi lebih dekat ke pabrik. Ini  juga perlu review kembali karena bisa kasih dampak terhadap nilai listrik yang dihasilkannya. Review selesai akhir tahun," paparnya.


(epi/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads