Pada perdagangan Jumat (9/10/2009), rupiah melemah tipis ke 9.450 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.437 per dolar AS.
Plt Gubernur BI Darmin Nasution mengakui bahwa BI memang berupaya untuk meredam penguatan rupiah yang terlalu cepat. Namun BI tidak mengarahkan rupiah pada satu angka tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena pelemahan dolar, kemudian investor mencari tempat yang masih prospeknya bagus seperti Indonesia," tegasnya.
Namun Hartadi menegaskan, aliran dana yang masuk itu bukan lah hot money tapi portofolio. Dana-dana asing paling banyak masuk ke instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Utang Negara (SUN). Namun diakui, dana-dana yang masuk ke instrumen SBI sifatnya jangka pendek.
"SBI itu biasanya untuk temporary stay aja, mana ada investor mau pegang lama?" ujar Hartadi.
Sementara dolar AS di pasar regional juga mengalami rebound atas mayoritas mata uang, terutama euro dan yen setelah Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke menyatakan, suku bunga AS perlu untuk dinaikkan setelah perekonomian membaik.
Dolar AS menguat ke 89,22 yen, dibandingkan sebelumnya di 88,39 yen. Euro juga melemah ke 1,4733 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,4791 dolar.
"Penguatan euro tertahan atas dolar AS setelah Bernanke manyatakan Fed harus memperketat kebijakan moneternya ketika perekonomian AS sudah cukup membaik. Namun dalam pandangan kami, The Fed tidak akan menaikkan suku bunga secepatnya," ujar Sebastien Barbe, ekonom dari Calyon seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)











































