Pada perdagangan Rabu (21/10/2009), rupiah melemah ke level 9.430 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level 9.387 per dolar AS.
Ekonom dari Standard Chartered, Fauzi Ichsan mengatakan, nilai tukar rupiah bisa menguat ke Rp 9.200 hingga akhir tahun. Bahkan pada tahun depan, rupiah bisa mencapai angka 9.100.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bank sentral global yang mempunyai cadangan devisa dalam US Dolar akan didiversifikasi ke euro atau emas sehingga dolar AS akan semakin ditinggal. Akhirnya dengan defisit yang besar itu, pemerintah AS menjual surat utangnya ke bank sentralnya. Bank sentral duitnya dari cetak dolar, otomatis kalau dolar AS dicetak terus akan melemah," ungkap Fauzi di Grand Hyatt, Jakarta, siang ini (21/10/2009).
Faktor global lainnya, adalah optimisme pemulihan ekonomi global yang memicu penguatan bursa global. Dengan penguatan bursa saham global dolar ini, investor internasional akan menjual dolarnya dan membeli mata uang Asia untuk membeli saham di Asia. Oleh karena itu, lanjut Fauzi, tidak hanya rupiah yang menguat, tetapi juga rupee India dan Won China juga menguat.
Sedangkan dari sisi domestik, Fauzi menjelaskan faktor pendorong penguatan rupiah adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik pascakrisis ekonomi global. Walaupun turun dibandingkan tahun lalu, dari 6,1% menjadi 4%, tetapi Indonesia bisa berada pada urutan ketiga tertinggi di Forum G20 setelah India dan China. Dampaknya, Indonesia dilirik oleh para investor internasional.
"Artinya dari kacamata investor, saham, pertumbuhan laba perbankan, dan korporasi di Indonesia akan pesat dibanding negara-negara tetangga. Otomatis harga saham akan naik, investor internasional medorong saham Indonesia dalam aksi ini. Rupiah menguat karena mereka membeli rupiah," jelas Fauzi.
Fauzi menambahkan jika Indonesia pada 2011 bisa menjadi investment grade maka rupiah bisa di bawah Rp9000. Kalau rupiah menguat otomatis daya beli masyarakat akan menguat. Bagi perekonomian Indonesia yang tergantung pada konsumsi dalam negeri, penguatan rupiah ini sangat menguntungkan. Berbeda dengan Malaysia, Thailand, Taiwan, dan Korea yang pasar domestiknya tidak besar karena bergantung pada ekspor.
"Jadi bagus tidaknya penguatan mata uang tergantung struktur ekonomi. Jadi faktor domestik kuat dan kental, penguatan yuan, rupee, rupiah akan membantu ketiga negara tersebut," ujar Fauzi.
Fauzi berpendapat dengan penguatan rupiah, suku bunga bisa diturunkan atau paling tidak dipertahankan. Hal ini perlu intervensi dari Bank Indonesia untuk menjaga penguatan rupiah tidak terlalu pesat sehingga pasar bisa memprediksi segala sesuatunya. Caranya dengan membeli dolar dan menjual rupiah hanya untuk smoothing.
"Yang terpenting bagi mereka adalah segala sesuatu yang bisa diprediksi, misal dari sisi suku bunga, mata uang stabil, pertumbuhan ekonomi bisa diprediksi. Mereka kan tidak suka yang volatilitasnya tinggi," papar Fauzi.
(nia/qom)











































