Pada perdagangan Jumat (23/10/2009), rupiah ditutup menguat 100 poin lebih ke Rp 9.435 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin di level Rp 9.540 per dolar AS.
S&P menaikkan sovereign outlook Indonesia dari 'stabil' ke 'positif'. Perbaikan outlook itu dilakukan karena manajemen fiskal dan utang Indonesia yang dilakukan secara hati-hati. Hal itu telah memicu investor untuk kembali memburu aset-aset lokal, termasuk di pasar saham. IHSG pada hari ini menguat cukup signifikan.
Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto mengatakan, peringkat kredit benar-benar akan terjadi jika Indonesia dapat meningkatkan kinerjanya 1-2 tahun ke depan terutama melalui kebijakan atau program reformasi dalam kebijakan subsidi BBM dan energi atau listrik.
"Ini hasil dari pengelolaan fiskal yang prudent dan moneter yang kredibel sehingga Indonesia dapat melewati krisis ekonomi dan pasar keuangan dengan baik," ujar Rahmat melalui pesan singkatnya.
Penguatan rupiah ini terjadi di saat mayoritas mata uang melemah atas dolar AS. Euro tercatat melemah ke 1,5001 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,5027 dolar. Dolar AS juga menguat atas yen ke posisi 91,81 yen, dibandingkan sebelumnya di 91,28 yen. (qom/dnl)











































