Hal tersebut dikatakan oleh Deputi Guberbnr BI, Budi Mulya disela acara Seminar Prospek and Development of Indonesian Islamic Banking Under The New Tax Regime di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (07/12/2009).
"Sama seperti di currency regional (volatilitas rupiah), karena memang di 3 bulan pertama tahun 2009 semua negara mengalami gejolak harga karena dampak Lehman Brothers yang kolaps. Saat ini rupiah volatilitasnya sekitar 15 persen year to date dari Januari hingga Desember 2009 dan masih seiring dengan tatanan kita," papar Budi Mulya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pokoknya baik hari biasa maupun hari yang tidak biasa, kita akan selalu menjaga dan memastikan, rupiah selalu terjaga. Karena rupiah penting bagi ekonomi. Caranya menjaga stabilitas rupiah yaitu minimalkan volatilitasnya," tutur Budi.
Budi Mulya menjelaskan, saat ini nilai tukar rupiah masih didukung oleh masuknya capital inflow (arus modal).
"Karena negara emerging pasti akan terus trendnya mendapatkan inflow dari global ekonomi. Karena memang ada likuditas ekonomi yang berlebih secara gobal saat ini dan wajar kalau likuiditas itu mencari return yang sudah dikalkulasi risikonya," kata Budi yang juga meyakini trend ini akan berlanjut hingga 2010.
(dru/qom)
