Sri Mulyani Mundur Bisa Negatif untuk Pasar Saham

Sri Mulyani Mundur Bisa Negatif untuk Pasar Saham

- detikFinance
Selasa, 15 Des 2009 10:54 WIB
Sri Mulyani Mundur Bisa Negatif untuk Pasar Saham
Jakarta - Konflik Bank Century memunculkan rumor mundurnya Sri Mulyani Indrawati dari posisinya sebagai Menteri Keuangan. Jika hal itu terjadi, maka dikhawatirkan akan menimbulkan respons yang negatif di pasar saham.

"Kelihatannya bakal negatif karena Sri Mulyani termasuk figur yang disukai pasar," ujar analis dari Panin Sekuritas, Purwoko Sartono saat berbincang dengan detikFinance, Selasa (15/12/2009).

Menurut Purwoko, investor di pasar saham cukup nyaman dengan sikap Sri Mulyani saat menangani dampak krisis finansial di tahun 2008 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menkeu relatif responsif, cekatan ketika itu. Dan kelihatannya Indonesia cukup berhasil melewati krisis atas peran dia," tambah Purwoko.

Konflik penyelamatan Bank Century yang kini sedang masuk proses hak angket di DPR terus memanas setelah anggota DPR Bambang Soesatyo mengaku memiliki rekaman pembicaraan Sri Mulyani dengan orang yang diklaimnya sebagai Robert Tantular.

Namun Sri Mulyani dalam jumpa pers akhir pekan lalu telah membantah semua. Rekaman rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) 20-21 November lalu bahkan diputar untuk menunjukkan tidak ada keterlibatan Robert Tantular dalam penyelamatan Bank Century.

Purwoko menjelaskan, konflik Bank Century yang kini sudah memasuki ranah politik memang secara psikologis memberikan sentimen di pasar saham. Investor menjadi bertanya-tanya seputar kepastian hukum di Indonesia, yang merupakan hal penting dalam berinvestasi.

"Bagi investor yang paling penting bagaimana hukum di Indonesia, transparansi dll. Kasus ini juga semakin mengganggu program pemerintah juga dalam 100 hari. Harusnya pemerintah bisa bekerja banyak dalam 100 hari, tapi menjadi tidak optimal dengan kasus ini," ungkapnya.

Respons negatif investor di pasar saham dalam kasus Bank Century itu terlihat dari rendahnya nilai transaksi pada bulan terakhir di 2009 ini. Nilai transaksi bahkan kini hanya di bawah Rp 3 triliun. Pdahal mestinya, lanjut Purwoko, transaksi perdagangan sangat besar menjelang berakhirnya tahun 2009.

"Kasus ini mengganggu, terlihat dari rendahnya nilai transaksi, di bawah Rp 3 triliun. Mestinya akhir tahun bisanya meningkat, menjelang minggu ketiga. Bisanya Desember nilai transaksi tidak pernah turun drastis seperti sekarang. Ini menunjukkan pasar masih menunggu masalah ini bagaimana berakhir," pungkasnya.
(qom/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads