Menurut Direktur Utama FSI Indonesia Legowo Kusumonegoro, dalam mengelola dana nasabah dan melakukan investasi, pihaknya menambahkan faktor tambahan untuk pertimbangan dalam berinvestasi.
"Faktor lingkungan, sosial dan corporate governance (environment, social and corporate governance/ESG) harus menjadi pertimbangan investasi agar menghasilkan kinerja jangka panjang yang lebih baik," katanya dalam jumpa pers di Gedung Arta Graha, SCBD, Sudirman, Jakarta, Kamis (7/1/2010).
Ia berharap, dengan adanya faktor tersebut maka investor bisa ikut bertanggung jawab dalam berinvestasi di perusahaan yang peduli terhadap lingkungan. "Target kita investor jangka panjang, bukan spekulan yang mengejar return jangka pendek," katanya.
Ia menambahkan, pihaknya telah menerapkan investasi ESG tersebut sejak tahun 2008. Saat ini, ada sekitar 40 saham milik emiten di Bursa Efek Indonesia yang secara aktif dibeli oleh perseroan dan sekitar 80 yang dipantau secara rutin.
Emiten yang dipantau tersebut semuanya sudah menerapkan faktor ESG tersebut. Saat ini perseroan juga berupaya membantu emiten yang belum menerapkan ESG, targetnya perusahaan di sektor industri pertambangan, rokok dan lain-lain.
"Dengan berinvestasi di perusahaan yang peduli lingkungan, tingkat sustainable investasinya lebih panjang. Dan investor bisa tidur dengan nyenyak," ujarnya.
Meski tergolong masih baru, ia mengaku kinerja FSI Indonesia cukup menggembirakan, salah satunya bisa dilihat dari jumlah investor yang mencapai 10.000 nasabah dengan nasabah korporasi 300 institusi dari jumlah tersebut.
Sehubungan dengan investasi dengan prinsip ESG, pada tahun 2007, induk usaha FSI Indonesia, Colonial First State Global Asset Management (CFS-GAM), telah menandatangani prinsip investasi bertanggung jawab yang diprakarsai oleh investor institusi dalam hubungannya dengan program lingkungan PBB Finance Initiative dan Global Compact PBB atau lebih dikenal dengan The Principles for Responsible Investment.
CFS-GAM merupakan perusahaan manajer investasi terbesar di Australia dengan jumlah dana kelolaan AUD 138,2 miliar (Rp 1.035 triliun).
(ang/dro)











































