Rupiah Alami Tekanan Sepanjang Semester I-2010

Rupiah Alami Tekanan Sepanjang Semester I-2010

- detikFinance
Senin, 18 Jan 2010 18:36 WIB
Rupiah Alami Tekanan Sepanjang Semester I-2010
Jakarta - Nilai tukar rupiah akan mengalami tekanan pada semester I-2010 dengan adanya ketidakpastian ekonomi AS sehingga memicu pelemahan rupiah pada kisaran Rp 9.500-9.700 per dolar.

Demikian dikatakan Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan saat ditemui di Hotel Four Season, Jakarta, Senin (18/1/2010).

Menurut Fauzi, pelemahan rupiah tersebut disebabkan risiko finansial jilid II akan lebih besar pada semester I-2010 karena ketidakpastian ekonomi global, termasuk ekonomi AS. Ketidakpastian ekonomi AS juga akan melemahkan bursa Asia seiring melemahnya nilai tukar.

"Ketidakpastian ekonomi AS juga akan melemahkan bursa Asia dan nilai tukar mata uang Asia berhubungan dengan bursa Asia," jelasnya.

Namun, pada semester II-2010, lanjut Fauzi, rupiah akan kembali menguat pada kisaran Rp 8.800-8.900 per dolar. Penguatan ini karena AS mulai mengalami perbaikan sehingga pasar kembali optimis.

"Kami memperkirakan rupiah hingga akhir tahun 2010 sebesar Rp 8.800-8.900 per dolar," ungkapnya.

Fauzi juga menyatakan dalam kondisi seperti itu, bank sentral dan negara-negara G20 harus memiliki komitmen yang besar untuk menurunkan suku bunga dan melonggarkan likuiditas.

Fauzi memperkirakan BI akan menaikkan suku bunganya pada 7,5% hingga akhir tahun ini. Namun, tambahnya, kenaikan ini akan diikuti penurunan suku bunga kredit karena kenaikan pertumbuhan ekonomi menjadi 5,5% akan memperbaiki risk appetite perbankan. Menurut Fauzi, tingginya spread disebabkan ketidakpastian hukum di Indonesia.

"Debitur menunggak tapi posisi kreditur belum tentu kuat di pengadilan," ungkapnya.

Fauzi menyatakan Standard Chartered memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 5,5%.

Harga minyak mentah dunia diprediksi akan menembus level US$ 90 per barel dan mendorong kenaikan harga komoditas lainnya seperti kelapa sawit, gas alam, dan batubara. Kenaikan harga ini akan menyebabkan tingkat inflasi hingga akhir tahun sebesar 5,5%.

Cadangan devisa hingga akhir tahun diprediksi sebesar US$ 73 miliar dengan neraca perdagangan yang turun dari US$ 30 miliar pada tahun lalu menjadi US$ 28 miliar. Neraca berjalan juga turun US$ 4miliar dari US$ 9 miliar pada tahun lalu menjadi US$ 5 miliar.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads