Demikian disampaikan Presiden Direktur OKAS Dharma Djojonegoro dalam paparan publik di Financial Club, Graha Niaga Jalan Jenderal Sudirman Jakarta, Selasa (6/4/2010)
"Akuisisi memang diharapkan tahun ini selesai. Kami sedang mencapai tambang yang cukup signifikan, dengan reserve antara 30-50 juta ton," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lagi jajaki di kedua itu, namun yang penting reserve dan kemudahan pengeluaran batubara atau logistical. Itu jadi pertimbangan perseroan. Namun kami belum bisa menyebut, nanti bisa merusak pasar," katanya.
Lanjutnya, perseroan memang tengah giat untuk meningkatkan jumlah kapasitas produksi dalam negeri. Ini terkait dengan semakin meningkatnya permintaan emas hitam ini di pasar domestik. Dengan adanya penambahan produksi, diharapkan bisa mengdongkrak pendapatan mereka di tahun 2011. Permintaan batubara nasional sendiri mencapai 250 juta ton di 2009, dan diperkirakan angka ini terus naik hinga 270 juta ton dan 345 juta ton di 2010 dan 2011.
"Kami ingin tambang yang sudah produksi. Nantinya dana akuisisi akan dimaksimalkan dari pinjaman bank. Idealnya sih 70:30 (bank dan internal), tapi kita sih inginnya semua dari bank. Totalnya kami belum tahu, karena nilai akuisisi sendiri belum terbentuk," ujar Dirur Keuangan OKAS Meliza Musa.
Perseroan juga mencatat laba bersih sebesar Rp 18,7 miliar atau meningkat 15% dibandingkan posisi tahun lalu, Rp 16,16 miliar . Penjualan bersih sendiri juga meningkat 28% menjadi Rp 1,3 triliun pada akhir 2009 dari posisi sebelumnya Rp 1,03 triliun.
Jumlah aset perseroan juga meningkat 56% dari Rp 643,6 miliar di tahun 2008 menjadi Rp 1,005 triliun pada akhir tahun 2009. Untuk jumlah ekuitas perseroan meningkat sampai 11% menjadi Rp139,8 miliar menjadi Rp 126,5 miliar pada 2008.
"Penyebab utama dari kenaikan di tahun ini adanya peningkatan kontribusi dari 2 anak usaha perseroan yaitu MNK (Multi Nitrotama Kima) dan Bormindo Nusantara," ujar Dharma.
Selama tahun 2009, MNK membukukan penjualan Amonium Nitra sebesar 194.262 juta ton, atau naik 23% dibanding tahun sebelumnya. Dimana pabrik MNK sendiri memproduksi sekitar 18% atau 36.212 metrik ton, sedangkan sisanya impor.
Pabrik MNK sendiri memberikan kontribusi sebesar 60% dari laba kotor. Ekspansi pabrik sendiri sedang dilakukan dan direncanakan dapat mulai beroperasi pada kuartal II 2011, dengan total produksi sebesar 100 ribu metik ton.
MNK tercatat mengalami kenaikan pendapatan aksesoris peledakan, seperti detonator bosster dan lain-lain sebesar 58%, sedangkan untuk jasa peledakan meningkat 28% dibanding tahun 2008.
Bormindo sendiri mencatat kenaikan laba usaha jika dibandingkan posisi tahun lalu. Kenaikan disebabkan terjadi peningkatan utilisasi rig sebesar 84%.
"Tahun lalu merupakan capaian yang baik oleh perseroan, dan kami terus akan berkembang melalui anak usaha dan harapannya profitabilitas dapat meningkat dua kali lipat di tahun depan," ucapnya.
(wep/dro)











































