Menurut Director Finance & Administration PT Multi Nitrotama Kimia Aulia M. Oemar, kepastian pembatalan obligasi ini disebabkan karena tingginya tingkat bunga yang diminta oleh investor. Hingga perseroan lebih memilih pinjaman bank, dengan suku bunga yang lebih rendah.
"Investor minta suku bunga yang lebih mahal dibanding pinjaman bank. Mereka minta di atas 15% jadi kita putuskan untuk postpone. Kalau bank suku bunga 7%, tapi dalam mata uang dollar, kalau diconverd ke rupiah sekitar 9%," ujar Aulia saat ditemui di Financial Club, Graha Niaga Jalan Jenderal Sudirman Jakarta, Selasa (6/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nilai pinjaman ini untuk melengkapi dari total investasi perseroan dalam pembangunan pabrik, yang sebesar US$ 58 juta. Sisanya akan didapat dari dana internal dan juga injeksi dari induk usaha, OKAS.
"Posisi kas kami sampai Desember 2009, Rp 112,198 miliar, dan sebagian besar persiapan expantion plan untuk MNK," ujar Direktur Keuangan OKAS Meliza Musa.
Pabrik baru AN sendiri rencananya akan berkapasitas 100 ribu metrik ton per tahun. Dengan panambahan ini, diperkirakan jumlah produksi bahan peledak untuk tambang ini akan naik hingga 137 ribu metrik ton per tahun.
"Pembangunan rencananya akan selesai pada awal kuartal II 2010, dan bisa mulai beroperasi setelah itu. Kita pastikan juga, dengan pabrik baru maka akan terjadi peningkatan profitabilitas," ungkap Aulia.
Lanjutnya, "selisih antara produksi dengan penjualan AN, akan terpangkas karena pabrik baru kita. Selama ini, sisa AN kita impor dari negara Korea, Chili dan lain-lain," paparnya.
Ia menambahkan akan terjadi perubahan margin US$ 10-12 juta pada EBITDA perseroan, setelah pabrik terbangun. Atau ada pertambahan rasio sebesar 10%, dari 17-18% menjadi 27-28%.
Ia juga menargetkan, belanja modal (capital expenditure/capex) di tahun depan US$ 53 juta. Penggunaan capex tetap akan diprioritaskan untuk pembangunan pabrik AN. Pendapatan perseroan juga dipatok Rp 1-1,1 trilun, dengan EBITDA Rp 170-180 miliar di tahun depan.
"Untuk laba sebelum pajak, kami targetkan Rp 130-140 miliar," tutunya beberapa waktu lalu.
(wep/dro)











































