Demikian disampaikan Direktur Utama ADRO Garibaldi Tohir saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD Jakarta, Kamis (22/4/2010).
"B to B nya sudah masuk. Tinggal tunggu persetujuan pemerintah. Kami juga sedang lakukan studi yang lebih mendalam di sana," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjanjian kerja sama telah dilakukan antara ADRO dengan BHP Minerals Holdings Pty Ltd dan BHP Minerals International Exploration Inc.
Untuk ketujuh proyek tambang Maruwai ini adalah PT Maruwai Coal, PT Juloi Coal, PT Kalteng Coal, PT Sumber Barito Coal, PT Lahai Coal, PT Ratah Coal dan PT Pari Coal. Porsi kepemilikan ADRO dalam konsorsium tersebut sebesar 25%.
"Rapat dengan BHP sudah. Sudah ada persetujuan penuh. Disana nantinya akan dihasilkan batubara dengan kalori tinggi, 7000. Kalau kami kan biasa di 5800-5900," paparnya.
Sebelumnya, pemerintah menyampaikan bahwa mereka masih menunggu surat resmi dari BHP Billiton Indonesia terkait pelepasan 25% saham di tujuh tambang miliknya ke anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Alam Tri Abadi.
"Saya belum terima suratnya dari mereka," ujar Direktur Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Bambang Setiawan waktu itu.
Meskipun belum menerima surat resmi dari BHP, namun Bambang sudah memberikan sinyal positif bahwa pihaknya akan memberikan persetujuan atas transaksi penjualan saham tersebut.
"Tapi saya lihat tidak ada masalah. Tidak ada yang aneh, itu kan transfer biasa,β ungkap dia.
Β
Β
(wep/dro)











































