Entah berkaitan atau tidak, kepergian Sri Mulyani membuat pemerintah dan Aburizal Bakrie rukun. Di dunia politik, Aburizal Bakrie yang menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Partai Golkar sukses membangun sebuah konsolidasi antar partai yang kemudian dikenal dengan nama Sekretariat Gabungan Partai Politik Koalisi (Setgab Koalisi).
Konsolidasi ini merupakan gabungan 6 partai yang terdiri dari Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Golkar.
Dalam Setgab Koalisi ini, Aburizal Bakrie ditunjuk menjadi Ketua Harian mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Umum. Posisi Aburizal dalam Setgab sempat mengundang kontroversi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rupanya, perkawinan antara Aburizal Bakrie dengan pemerintah tak berhenti sampai disitu. Di dunia bisnis, entah berkaitan atau tidak, keduanya kini tengah membahas sebuah pesta pernikahan antara perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah dengan perusahaan milik grup Bakrie.
Meski sempat dibantah berkali-kali oleh manajemen kedua perusahaan, akhirnya kebenaran terkuak juga. Midodareni (upacara lamaran pernikahan dalam adat Jawa) antara PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) kini tengah dilakukan antara kedua belah pihak.
Skema pernikahan masih dalam pembahasan intensif antara kedua belah pihak. Direktur Utama TLKM Rinaldi Firmansyah mengatakan pihaknya tengah membahas skema peleburan, bentuknya bisa akuisisi atau merger.
Manajemen BTEL pun masih bungkam soal skema yang akan digunakan. Untungnya, Menteri BUMN Mustafa Abubakar kemarin membocorkan kalau Kementerian telah menerima surat resmi dari TLKM yang meminta "izin" untuk melakukan merger (penggabungan usaha).
Namun yang jelas, peleburan ini bertujuan untuk mengonsolidasikan dua usaha yang memimpin bisnis operator berbasis Code Division Multiple Access (CDMA) yakni Telkom Flexi dan Esia, yang tentunya akan menghasilkan satu perusahaan telekomunikasi yang sangat kuat.
Menurut Mustafa, pemerintah mendukung perkawinan usaha ini dan berharap proses bisa terlaksana secepatnya. Rinaldi pun mengatakan kalau proses peleburan ini bakal selesai paling lambat pada awal 2011. Sebab, TLKm harus mengubah status Telkom Flexi menjadi sebuah perseroan terbatas (PT) dari saat ini sebagai unit usaha.
Menurut Rinaldi proses ini akan memakan waktu kurang lebih 4 bulan. Setelah berubah status menjadi PT Telkom Flexi, proses merger dapat dilaksanakan.
Sayangnya, manajemen BTEL masih belum mau bicara banyak soal skema merger. Belum diketahui apakah PT Telkom Flexi akan melebur ke BTEL ataukah Esia akan dijadikan PT tersendiri juga seperti Telkom Flexi.
Saat ini, Telkom Flexi menguasai 15 juta pelanggan, sedangkan Esia menguasai 10 juta pelanggan. Dengan perhitungan sederhana, gabungan dua operator ini akan menciptakan perusahaan dengan pelanggan sebanyak 25 juta pelanggan. Sebagaimana dikatakan Mustafa, hasil merger 2 perusahaan ini akan menengahi persaingan yang selama ini terjadi (win-win solution).
Di dunia pasar modal, analis PT Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih mengatakan pasar tentu menyambut baik sinergi kedua emiten ini. Tentu ini menjadi langkah strategis, guna menyatukan pelanggan dalam satu perseroan besar.
"Secara umum tentu ini langkah baik, namun investor cenderung wait and see, meskipun ada spekulan-spekulan yang mencoba," jelas Alfatih dalam analisanya saat berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Selasa (8/6/2010).
Investor yang mengambil langkah wait and see, menurut Alfatih, lebih disebabkan perhatian mereka untuk menanti kejelasan sinergi Telkom Flexi dengan Esia.
"Secara teknis, kami lihat strategi dari keduanya akan seperti apa. Dengan pangsa pasar yang terbatas, maka jangan nantinya justru saling menjatuhkan. Investor tunggu itu, pembahasan sisi positif dan negatif keduanya, dan akan melahirkan kelebihan-kelebihan dari mereka yang akan ditawarkan ke pasar," jelasnya.
Berlawanan dengan itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melihat dari kacamata yang berbeda. KPPU bertekat memantau dampak dari merger Flexi dengan Esia. Sebab, penggabungan ini dinilai KPPU berpeluang menciptakan monopoli usaha dalam bisnis operator CDMA.
Bagaimanapun hasil akhirnya, tentu masih harus menunggu kejelasan hasil pembahasan intensif antara manajemen TLKM dari pihak pemerintah dengan manajemen BTEL dari pihak grup Bakrie.
Dan melihat kesuksesan Setgab dan merger Telkom Flexi dengan Esia membuat pasar bertanya-tanya, apakah pernikahan antara pemerintah dengan grup Bakrie bakal berlanjut pada bidang-bidang lainnya? (dro/qom)











































