Demikian disampaikan General Manager Silver Network Development JASS Patria Bayuaji di Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Jakarta, Selasa (8/6/2010).
"Investasi total Rp 50 miliar. Akan digunakan untuk pengembangan warehouse khususnya di IT seperti pelayanan investasi Electronic Data Interchange (EDI)," ujar Patria.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Layanan GHS yang disediakan perseroan selama ini meliputi bandara udara di Jakarta, Bali, Surabaya, Manado, Makasar, Medan, Balikpapan, Batam, Yogyakarta dan Timika. Dalam lima tahun mendatang, ditargetkan akan ada 10 bandara baru yang akan dilayani JASS.
"Itu perkiraan, 10 bandara dalam lima tahun. Tahun ini kita akan fokus di pengembangan di Indonesia Timur dan Kalimantan," ucapnya.
Indonesia timur menjadi potensi yang besar. Pasalnya, jalur-jalur penerbangan domestik mulai tumbuh dengan tingkat intensitas yang semakin besar. Jika situasi terus terjadi, maka maskapai penerbangan diyakini membutuhkan jasa ground holder dengan kualitas internasional.
"Kita akan buka apabila ada permintaan dari maskapai. Khususnya saat penerbangan sudah 5 sampai 10 kali per hari," katanya.
Investasi untuk GHS diperkirakan mencapai Rp 7-10 miliar per bandara. Hingga jika 10 bandara teralisasi sesuai rencana perseroan, maka JASS harus mengeluarkan dana sampai Rp 100 miliar.
"Target kami bisa ada pertumbuhan dari laba ataupun pendapatan. Tahun lalu pencapaian laba Rp 102,5 miliar, pendapatan Rp 570 miliar," imbuhnya.
Unit-unit usaha yang dikembangkan perseroan, akan disinergikan guna menghasilkan kontribusi signifikan. Salah satunya Primier Ground Services, yang memberi penerbangan internasional. Serta Silver Ground Services, untuk pelayanan kepada nasabah regional dan domestik yang berbasis low cost.
"Silver menyumbang cukup banyak, dengan bertambahnya jumlah frekuensi penerbangan yang dilayani Silver dari 29.942 di 2008 menjadi 40.051 di 2009," imbuhnya.
Â
Â
(wep/dro)











































