"Dalam waktu dekat kita akan menandatangani fasilitas pinjaman tunai senilai Rp 200 miliar," ujar Direktur Keuangan NIKL, Erwin di pabriknya, Cilegon, Rabu (9/6/2010).
Menurut Erwin, dana tersebut akan digunakan untuk modal kerja perseroan, meskipun ia belum dapat memastikan kapan akan dicairkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erwin mengatakan, perseroan kini memperoleh kepercayaan dari pihak perbankan untuk mendapatkan kemudahan dalam mencari pinjaman.
"Kita sekarang boleh dibilang cukup mudah mendapatkan pinjaman. Kita tidak perlu memberikan jaminan apa pun ditambah tingkat suku bunga yang rendah," jelas Erwin.
Menurut Erwin, tingkat suku bunga yang dikenakan bank pada perseroan hanya sebesar 8% untuk pinjaman rupiah, sedangkan untuk pinjaman dalam dolar AS bunganya di bawah 1%.
"Ini memudahkan kami dalam likuiditas," jelasnya.
Awal tahun ini, NIKL juga baru saja mencairkan pinjaman tunai senilai Rp 100 miliar dari BNI, Bank Danamon dan Mizuho Bank.
"Dana tersebut digunakan untuk modal kerja kita," ujarnya.
Selain itu, perseroan juga memiliki fasilitas pinjaman non tunai senilai US$ 40 juta. Fasilitas ini digunakan untuk keperluan membuka L/C (letter of credit) dalam rangka memasok bahan baku pelat timah.
"Fasilitas ini diperoleh dari BNI, Danamon, Mizuho dan Bank of Tokyo - Mitsui
United," ujarnya.
Sejak diakuisisi oleh konsorsium Nippon Steel yang menggeser PT Krakatau Steel dari pengendali perseroan, pasokan bahan baku perseroan diperoleh dari Nippon Steel, sekitar 70%.
"Jadi kita perlu membuka L/C untuk keperluan impor bahan baku pelat timah," jelas Erwin.
Dengan demikian, fasilitas dana pinjaman tunai maupun non tunai yang diperoleh perseroan tahun ini mencapai Rp 300 miliar dan US$ 40 juta atau totalnya sekitar Rp 680 miliar.
(dro/ang)











































