"Kompetisi seperti itu justru sehat dan positif buat konsumen. Kami optimis, karena kami lebih paham kebutuhan pasar domestik, disamping juga biaya produksi mereka juga relatif sama dengan pemain lokal," ujar Direktur KIAS, Hendra Iswadi dalam siaran persnya, Jumat (2/7/2010).
Dia menegaskan, selama kualitas mampu terjaga baik, maka pasar akan berpihak kepada perseroan. Tercatat, saat ini porsi penjualan perseroan lebih banyak untuk domestik sebesar 90%. Sedangkan untuk penjualan ekspor hanya 10%. "Sejauh ini, strategi yang kami lakukan, terbukti mampu membuat kami bertahan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun ini, KIAS menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp12 miliar, yang seluruhnya berasal dari dana kas internal. Capex tersebut akan digunakan untuk overhaul aset tetap perseroan. "Dengan posisi kami yang kuat, kami tidak khawatir menghadapi persaingan dengan pemain asing yang ingin membuka pabrik keramik Indonesia," tegas Hendra.
KIAS saat ini memiliki dua anak perusahaan yaitu : PT KIA Keramik Mas (KKM), yang bergerak di industri genteng keramik dan PT KIA Serpih Mas (KSM), yang bergerak di industri keramik lantai. Sementara pabrik-pabrik yang dimiliki perseroan dan anak usaha, antara lain : pabrik di Cileungsi, Karawang dan Gresik. Sementara kapasitas yang dimiliki, KIAS sebanyak 10,8 juta meter persergi (m2), KKM sebesar 22 juta keping per tahun, dan KSM 20,4 juta m2 per tahun.
Perseroan mencatat pertumbuhan penjualan sebesar 72% pada triwulan I-2010, menjadi Rp 157,187 miliar dari Rp 91,874 miliar periode sama tahun lalu. Sementara laba bersih selama tiga bulan pertama 2010, tercatat meningkat 26,97% menjadi Rp 27.3 miliar dari Rp 21.5 miliar periode sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut disebabkan membaiknya penjualan serta sudah terkonsolidasi secara penuh kinerja dari anak-anak usaha perseroan.
(dro/dro)











































