"Antam dan INCO tengah melakukan negosiasi untuk kembali mengadakan kerja sama pasokan 1 juta ton nikel," ujar sumber detikFinance, Jumat (23/7/2010).
Menurut sumber tersebut, penawaran ini merupakan upaya INCO mengadakan kembali kerja sama penjualan nikel ke ANTM. Seperti diketahui, INCO sempat menjual 1 juta ton per tahun nikel kepada ANTM terhitung sejak 2003 hingga 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemutusan kontrak itu diminta oleh pemerintah sebagai pemegang saham ANTM karena INCO dulu tidak tuntas melaksanakan janjinya membangun pabrik pengolahan bijih nikel di Pomalaa Timur sesuai dengan Kontrak Karya 2003," ujar sumber tersebut.
Sayangnya, lanjut sumber tersebut, perceraian keduanya menyulitkan kedua belah pihak. Di satu sisi INCO kehilangan pendapatan dari penjualan 1 juta ton nikel ke ANTM, di sisi lain ANTM juga harus mengeluarkan ongkos lebih untuk mengangkut nikel dari Halmahera.
"Jadi INCO menawarkan kembali kerjasama pasok nikel ke ANTM yang juga disambut baik oleh ANTM," ujarnya.
Namun menurutnya, keduanya masih melakukan negosiasi, terutama soal kesepakatan harga. Hingga saat ini belum ada kecocokan harga. "Tapi bisa saja dalam waktu dekat terjadi kontrak antar keduanya di tahun ini juga," jelas sumber tersebut.
Corporate Secretary ANTM Bimo Budi Satriyo ketika dikonfirmasi tidak membantah adanya negosiasi tersebut. Hanya saja, ia belum dapat berbicara banyak soal detil negosiasi yang tengah berlangsung.
"Ya memang sempat ada pembicaraan, tapi updatenya belum tahu. Nanti kami kabari," ujarnya.
Sedangkan Corporate Secretary INCO Indra N Ginting belum menjawab panggilan telepon detikFinance untuk mengkonfirmasi hal ini.
Β
Β
(dro/qom)











































