"Kami (PTBA) ada opsi untuk menambah kepemilikan sampai 30% di BATR," ujar Corporate Secretary PTBA, Achmad Sudarto saat ditemui di
kantornya, Menara KADIN Jalan HR Rasuna Said Jakarta Jumat (23/7/2010).
Saat ini, PTBA memiliki 10% saham di BATR, sedangkan pemegang saham lainnya adalah China Railway 10%, dan 80% punyai Grup Rajawali melalui PT Transpacific Railway Infrastructure.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perseroan menargetkan dapat pembebasan lahan proyek pembangunan angkutan kereta api dan pelabuhan batubara, di Tanjung Enim akan dimulai pada triwulan-I 2011, yang dilakukan melalui anak usahanya PT Bukit Asam Transpacific Railway (BATR).
"Land acuisition kami harapkan triwulan-I 2011. Total masih on track," jelasnya.
Ia menambahkan, fasilitas kredit dari perbankan China dalam pembangunan angkutan kereta api dan pelabuhan batubara masih belum diberikan. Dana ini baru akan cair saat BATR menyelesaikan minimal 50% dari pembebasan lahan.
"Kredit nunggu proyek jalan atau pengerjaan EPC (Engineering, Procurement and Construction), setelah 50% pembebasan," tambahnya.
Seperti diketahui, terdapat empat bank yang sudah memasukkan penawaran pinjaman ke BATR. Mereka diantaranya, Industrial and Commercial Bank of China Ltd (ICBC), The Export-Import Bank of China (China Eximbank), China Development Bank (CDB), dan Bank of China. Pinjaman yang nantinya akan didapat sebesar US$ 1,05 miliar atau 70% dari total investasi.
BATR sebelumnya juga telah mengikat kerjasama kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC) dan Kontrak Operator & Maintenance (O&M) dengan China Railway Group Limited. Kontrak jangka waktu 4 tahun sejak ditandatanganinya, dan termasuk jangka waktu pekerjaan desain.
Sementara itu, nilai kontrak untuk O&M disepakati sebesar US$ 3,5 miliar untuk jangka waktu 20 tahun.
"Penyelesaian desain jalur kereta api serta pembebasan lahan sekitar 6 bulan sampai 1 tahun. "Masih finalisasi desain. Setelah itu siap pembebasan lahan," ucap Achmad.
Â
Â
(wep/dro)











































