Indofood Bidik 58% Pangsa Pasar Terigu di 2010

Indofood Bidik 58% Pangsa Pasar Terigu di 2010

- detikFinance
Sabtu, 21 Agu 2010 14:23 WIB
Jakarta - PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menargetkan dapat menguasai pangsa pasar tepung terigu sebesar 58% di 2010. Volume penjualan tepung terigu nasional tahun ini diperkirakan sebesar 4,4 juta ton.

"Perkiraan kami tahun ini pangsa pasar Indofood di tepung terigu sektar 58-59%," ujar Direktur INDF, Franky Welirang di MU Cafe, Jakarta, Jumat (20/8/2010) malam.

Menurut Franky, volume penjualan tepung terigu nasional di tahun 2010 akan mencapai 4,4 juta ton, naik 9-10% dari tahun 2009 sebanyak 3,9 juta ton. Mengacu pada angka tersebut, penjualan tepung terigu INDF akan sekitar 2,5 juta ton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, hingga semester I-2010, volume penjualan tepung terigu nasional sebanyak 2,49 juta ton. "Pangsa pasar kita di semester I-2010 sekitar 55%," ujarnya.

Itu berarti, volume penjualan tepung terigu INDF di semester I-2010 sekitar 1,3 juta ton. Franky mengatakan, untuk menggenjot penguasaan pangsa pasar tepung terigu 58% akan dikontribusikan pada momentum puasa dan lebaran yang mana penjualan produk-produk pangan biasanya meningat drastis.

Selain itu, peningkatan pangsa pasar juga akan dikontribusikan dari berhentinya pasokan impor terigu dari Turki yang otomatis akan mempengaruhi volume penjualan terigu nasional.

"Produk terigu impor itu sekitar 15% dari volume penjualan terigu nasional. Dari porsi impor itu, sebesar 8% berasal dari Turki yang sekarang terhenti," ujarnya.

Terhentinya pasokan terigu impor dari Turki menyebabkan sebagian konsumen terigu nasional kehilangan pasokan. Di sisi lain, INDF pun mengaku tidak mengincar pasar yang hilang tersebut.

"Mereka yang biasa beli terigu Turki kan bukan konsumen kita. Fokus kami adalah menjamin ketersediaan pasokan terigu bagi konsumen kami. Terhentinya pasokan terigu Turki bukan berarti membuat kita memberikan sebagian produksi ke mereka (konsumen terigu Turki). Kita jaga konsumen kita dulu. Lagipula, terigu Turki itu spesifikasinya berbeda dari kita. Jadi tidak serta merta kita bisa penuhi pasokan yang berhenti itu," papar Franky.

(dro/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads