Bahkan IHSG kembali mencatatkan level tertingginya pada perdagangan jumat pekan lalu di angka 3164,27 atau menguat sebesar 1,9% bila dibandingkan dengan penutupan perdagangan pekan sebelumnya.
"Penguatan IHSG tersebut didorong oleh penguatan yang terjadi pada bursa Amerika sebagai refleksi dari positifnya data indikator ekonomi Amerika yang dirilis akhir pekan lalu," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya, Senin (6/9/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Data tersebut pada akhirnya meredakan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan Amerika jatuh ke resesi tahap kedua yang sempat mencuat pekan sebelumnya," jelas Fikri.
Data pertumbuhan pekerjaan merupakan indikator penting yang dapat menggambarkan kondisi ekonomi suatu Negara, ketika aktivitas ekonomi menumbuhkan banyak pekerjaan maka kekhawatiran terhadap kemungkinan krisis pada suatu negaradapat dibuang jauh.
"Walau demikian, saat ini tidak ada kabar yang dapat memberikan pengaruh jangka panjang terhadap persepsi investor pada pasar, investor sangat sensitif terhadap setiap data ekonomi yang dirilis. Ketika satu kabar positif yang muncul mengangkat harga, maka seketika harga tersebut akan jatuh ketika kabar negatif lainnya muncul," urainya.
Lebih lanjut, arah pergerakan bursa acuan dunia minggu depan akan ditentukan oleh data yang akan dirilis mengenai neraca perdagangan Amerika serta data mengenai angka klaim pengangguran.
Sebagai gambaran, pasar memprediksi defisit perdagangan Amerika pada bulan Juli berada dikisaran $47.2 miliar atau turun dibandingkan bulan sebelumnya diangka $49.9 milliar sedangkan angka klaim pengangguran diprediksi akan turun menjadi 470,000.
Dari dalam negeri, minggu depan bursa saham indonesia akan memasuki libur panjang. Sehingga investor dengan time horizon yang pendek akan cenderung keluar dari pasar untuk menghindari eksposure resiko yang besar disamping itu investor juga cenderung akan melakukan profit taking setelah IHSG minggu lalu menguat cukup signifikan.
"Kondisi tersebut akan menekan IHSG sehingga berpotensi melemah pekan depan.
Pelemahan IHSG juga masih akan terus dibayangi 'September fobia' mengingat sejarahnya bulan September merupakan bulan dengan kinerja indeks yang paling rendah," jelas Fikri.
Lebih lanjut, berdasarkan riset yang pernah dilakukan, sejak tahun 1950 indeks S&P500 (salah satu indeks acuan dunia) rata-rata turun sebesar 0.7% selama perdagangan bulan September.
(qom/qom)











































