Perang Mata Uang Global Bisa Bikin Eksportir RI Terpuruk

Perang Mata Uang Global Bisa Bikin Eksportir RI Terpuruk

- detikFinance
Jumat, 08 Okt 2010 10:37 WIB
Perang Mata Uang Global Bisa Bikin Eksportir RI Terpuruk
Jakarta - 'Perang' mata uang global diyakini tidak terlalu berdampak pada Indonesia dari sisi aliran modal. Namun 'Perang' mata uang global bisa mengancam sisi ekspor Indonesia jika banyak eksportir yang menggunakan rupiah untuk menjual barang produksinya.

"Ekspor kalau banyak yang menggunakan rupiah ya memang akan terpuruk. Itu jika struktur biaya eksportir banyak yang menggunakan rupiak maka daya saing akan terpuruk," ujar Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan saat dihubungi detikFinance, Kamis (7/10/2010).

"Tapi kalau banyak mengimpor bahan baku, maka netral. Jadi itu kompensasi dengan turunnya impor," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, bank sentral di berbagai belahan dunia kini sedang berlomba-lomba melakukan intervensi untuk menghindari penguatan mata uangnya terhadap dolar AS. Penguatan mata uang itu dinilai bisa membahayakan sisi ekspor. Misalnya saja adalah Jepang.

'Perang' mata uang yang tak kalah seru terjadi adalah antara Amerika Serikat dan China. AS sudah lama berang kepada China karena dinilai menjaga ketat mata uangnya agar tidak menguat untuk melindungi ekspornya.

Fauzi menegaskan, negara-negara Asia seperti Jepang dan China memang tidak terlalu suka jika mata uang mereka menguat terlalu tajam dengan Dolar Amerika. Pasalnya, hal tersebut akan memukul ekspor negara-negara tersebut.

"Pada dasarnya negara Jepang, China, dan Asia lainnya tidak suka dolar Amerika melemah terlalu tajam atau mata uangnya menguat terlalu tajam terhadap dolar karena ekspornya akan terpukul," ujarnya

Selain itu, lanjut Fauzi, melemahnya dolar akan menurunkan secara tajam nilai cadangan devisa negara tersebut karena hampir 60-70% cadangan devisa negara-negara itu bernilai dolar AS.

"Cadangan devisa negara mereka akan menurun terlalu tajam karena umumnya 60-70 persen dalam dolar, kalau misalnya dolar melemah maka cadangan devisanya akan menurun," jelasnya.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Perindustrian dan Perdagangan Edy Putra Irawady sebelumnya meyakini, sejauh ini, perang mata uang itu belum berpengaruh pada nilai ekspor Indonesia.

Ekspor RI sejauh ini belum terpengaruh karena komoditi negara-negara yang menekan nilai tukarnya itu tidak saling berhadapan  dengan komoditi ekspor Indonesia.

"Jadi tidak head to head," tegasnya.

(nia/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads