"Ekspor kalau banyak yang menggunakan rupiah ya memang akan terpuruk. Itu jika struktur biaya eksportir banyak yang menggunakan rupiak maka daya saing akan terpuruk," ujar Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan saat dihubungi detikFinance, Kamis (7/10/2010).
"Tapi kalau banyak mengimpor bahan baku, maka netral. Jadi itu kompensasi dengan turunnya impor," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Perang' mata uang yang tak kalah seru terjadi adalah antara Amerika Serikat dan China. AS sudah lama berang kepada China karena dinilai menjaga ketat mata uangnya agar tidak menguat untuk melindungi ekspornya.
Fauzi menegaskan, negara-negara Asia seperti Jepang dan China memang tidak terlalu suka jika mata uang mereka menguat terlalu tajam dengan Dolar Amerika. Pasalnya, hal tersebut akan memukul ekspor negara-negara tersebut.
"Pada dasarnya negara Jepang, China, dan Asia lainnya tidak suka dolar Amerika melemah terlalu tajam atau mata uangnya menguat terlalu tajam terhadap dolar karena ekspornya akan terpukul," ujarnya
Selain itu, lanjut Fauzi, melemahnya dolar akan menurunkan secara tajam nilai cadangan devisa negara tersebut karena hampir 60-70% cadangan devisa negara-negara itu bernilai dolar AS.
"Cadangan devisa negara mereka akan menurun terlalu tajam karena umumnya 60-70 persen dalam dolar, kalau misalnya dolar melemah maka cadangan devisanya akan menurun," jelasnya.
Deputi Menko Perekonomian Bidang Perindustrian dan Perdagangan Edy Putra Irawady sebelumnya meyakini, sejauh ini, perang mata uang itu belum berpengaruh pada nilai ekspor Indonesia.
Ekspor RI sejauh ini belum terpengaruh karena komoditi negara-negara yang menekan nilai tukarnya itu tidak saling berhadapan dengan komoditi ekspor Indonesia.
"Jadi tidak head to head," tegasnya.
(nia/qom)











































