"Itu semua akan digunakan untuk pendanaan proyek-proyek besar perseroan," ujar Presiden Komisaris Medco Energi Internasional Hilmi Panigoro di sela acara Sarasehan Energi Baru Terbarukan di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (2/11/2010).
Menurut Hilmi, adapun sejumlah proyek besar yang akan dikerjakan Medco yaitu proyek Donggi Senoro, Blok Libya, dan pengembangan Blok A.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gas tersebut akan berasal dari lapangan Senoro dan Matindok. Lapangan Senoro dimiliki oleh PT Pertamina Hulu Energi Tomori Sulawesi dan PT Medco Tomori dengan saham masing-masing 50%. Sedangkan, Matindok dimiliki PT Pertamina EP sebesar 100 persen.
Saat ini alokasi gas Senoro masih menunggu persetujuan dari Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh.
"Donggi Senoro ini kan sekarang green lightnya ada di pemerintah. GSA (Gas Sales Agreement) dan SAA (Sales Appointed Agreement) belum diteken. Nanti kalau sudah diteken capex-nya akan besar sekali tahun depan," jelas Hilmi.
Sementara untuk Blok A yang dikelola Medco E&P Malaka, anak usaha Medco Energi Internasional juga telah mendapat perpanjangan kontrak sekitar 20 tahun dari pemerintah. Kontrak existing blok tersebut berakhir 31 Agustus 2011.
"Untuk Blok Libya yang sudah masuk pengembangan juga butuh dana cukup besar," ungkapnya.
Hingga Agustus 2010, Perseroan telah mencatat telah menghabiskan dana sebanyak US$ 180 juta untuk pengembangan Area 47 di Libya. Dana tersebut sudah mulai dipakai sejak tahun 2006 lalu.
Perseroan sudah melakukan pengeboran 22 sumur terdiri dari 18 sumur eksplorasi dan 4 sumur appraisal. Dari 18 sumur, perusahaan migas itu sudah menemukan cadangan di 15 sumur. Komersialisasi Area 47 itu akan dilakukan tahun ini setelah itu dilanjutkan dengan pengembangan produksi. Pada awal produksi, emiten berkode MEDC itu bisa memproduksi hingga 50.000 barel per hari.
Jangka waktu dari komersialisasi hingga pengembangan produksi diperkirakan memakan waktu 3 tahun, sehingga blok tersebut diperkirakan baru akan berproduksi tahun 2014 mendatang.
Pada kesempatan yang sama, Hilmi menargetkan proses pelepasan 27,9% saham tidak langsung Medco Energi Internasional ke Pertamina akan selesai sebelum akhir tahun ini. Namun sayangnya, Hilmi enggan menyebutkan berapa nilai dari saham yang akan dilepas perseroan tersebut.
"Sebelum akhir tahun ini sudah selesai," tambahnya.
Seperti diketahui, Pertamina telah membeli sebagian saham Encore Energy Pte Ltd (EEPL) yang dimiliki oleh Encore International Ltd (EIL). Encore Energy saat ini menguasai 50,7% saham di PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).
Proses jual beli ini akan menjadikan Pertamina sebagai pemegang saham tidak langsung sebesar 27,9% di Medco Energi. Sementara porsi pemegang saham lain di Medco Energi tidak terganggu oleh transaksi ini.
(epi/dro)











































