Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan China sepakat untuk membeli 200 unit pesawat jet Boeing. China juga disebut-sebut akan menambah pembelian dengan total akhir mencapai 750 unit pesawat.
"Kesepakatan itu mencakup sekitar 200 pesawat dan janji hingga 750 pesawat jika mereka berkinerja baik," kata Trump di dalam pesawat Air Force One seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (16/5/2026).
Rincian lebih lanjut tentang kesepakatan itu, seperti jenis jet yang dipesan dan jadwal pengiriman belum tersedia saat ini. Namun, ia menambahkan bahwa pesawat-pesawat tersebut akan diproduksi oleh GE Aerospace.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump mengatakan, Presiden China Xi Jinping akan melakukan kunjungan balasan ke AS pada September, yang menyiratkan bahwa kunjungan itu mungkin menjadi titik fokus dari gelombang pesanan pesawat potensial berikutnya.
Meski begitu, dalam kesempatan terpisah Trump mengatakan pesanan Boeing dari China mencakup pesawat jet model 777 dan 737. Jika diselesaikan, pesanan itu akan menandai kesepakatan besar pertama antara Boeing dengan China dalam hampir satu dekade terakhir.
"Dia (Xi) berkomitmen untuk 200 pesawat Boeing, yang besar, 777, dan 737, dan banyak sekali pesawat Boeing yang besar, besar, dan indah," kata Trump dalam wawancara kepada Fox News.
Di luar itu, menurut perkiraan perusahaan intelijen dan konsultasi penerbangan IBA, nilai pesanan 200 pesawat Negeri Tirai Bambu ditaksir mencapai US$ 17-19 miliar atau Rp 299,13-334,32 triliun (kurs Rp 17.596) dengan asumsi 80% di antaranya adalah pesanan jet MAX dan 20% sisanya baru pesawat berbadan lebar.
"Namun, angka ini bisa meningkat menjadi US$ 25 miliar (Rp 439,9 triliun) jika proporsi yang lebih besar, sekitar 40%, dari total pesanan diumumkan untuk pesawat berbadan lebar," kata Samuel Kenekueyero dari IBA.
China Masih Ogah-ogahan Beli Banyak Pesawat Boeing
Meski memborong 200 unit pesawat dan berencana menambah jumlah pembelian hingga 750 unit, ternyata komitmen ini masih jauh dari target awal perusahaan. Berdasarkan sumber-sumber industri mengatakan Boeing awalnya sedang dalam negosiasi untuk pembelian setidaknya 500 jet berbadan sempit dalam KTT Beijing, dengan puluhan jet berbadan lebar dan potensi tambahan pesanan 200 jet di kemudian hari.
Artinya, komitmen pembelian awal ini hanya sekitar 40% dari target awal Boeing saat ikut Trump ke China. Hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran akan dukungan perusahaan usai pembelian.
"Alasan China tidak membeli sangat sederhana, tidak ada yang mau membeli sesuatu tanpa jaminan perawatan dan dukungan setelah pembelian. Mei lalu, AS masih mengancam pembatasan ekspor suku cadang. Jika mereka memberlakukan embargo suku cadang seperti itu, siapa yang masih berani membeli Boeing?," kata pakar independen di industri penerbangan China, Li Hanming.
(igo/ara)










































