Bank Sentral AS dalam pengumumannya kemarin menyatakan akan membeli surat-surat berharga pemerintah AS berjangka panjang setiap bulan US$ 75 miliar hingga Juni, atau berarti total akan mencapai US$ 600 miliar. Hal itu ditujukan untuk menggerakkan lagi perekonomian AS.
Keputusan itu langsung membawa konsekuensi merosotnya dolar AS karena hal itu berarti akan ada suplai dolar AS yang berlebihan. Harga komoditas dan energi pun langsung melonjak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Nasdaq menguat 37,07 poin (1,46%) ke level 2.577.34, yang merupakan tertinggi sejak Januari 2008.
"Apa yang Anda dapat dari kebijakan 'quantitative easing' itu adalah bahwa Anda memberi sinyal kepada investor untuk tidak membeli surat berharga pemerintah, ambil uang dari manapun, yang pada akhirnya akan melemahkan dolar AS dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi," ujar Axel Merk, presiden dan manajer portofolio Merk Investment seperti dikutip dari Reuters, Jumat (5/11/2010).
Dolar AS tercatat melemah atas sekumpulan mata uang, dengan Indeks Dolar AS melemah 0,83% ke level 75,849. Pelemahan dolar akan dipandang dari sisi inflasi, namun malah bisa mendongkrak sektor ekspor AS.
"The Fed dalam pandangan saya sedang mencoba untuk menurunkan nilai dolar karena pencetakan seluruh uang itu tidak akan mendongkrak pertumbuhan itu sendiri. Risikonya adalah uang tidak akan terpukul dan tidak akan pergi ke tempat yang seharusnya," imbuh Merk, yang perusahaannya mengelola reksa dana valas hingga US$ 500 juta.
Dengan pelemahan dolar AS, konsekuensinya adalah harga komoditas dan energi langsung melonjak. Harga minyak mentah dunia tercatat menguat US$ 1,97 (2,33%) ke level US$ 86,66 per barel, harga emas di pasar spot menguat 3,25% ke level US$ 1.391,30 per ounce.
(qom/qom)











































