Menurut Deputi Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Pandu Djayanto, mengatakan, IPO Garuda tidak jadi menggunakan laporan keuangan triwulan III-2010 gara-gara mencatat rugi bersih Rp 39,510 miliar.
"Kita enggak berani pakai laporan keuangan September. Nanti harganya tidak maksimal," katanya di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (8/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di kita (Kemenetrian BUMN) secara teknis kajiannya akan menggunakan laporan keuangan Desember," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Danareksa Sekuritas Marciano Herman selaku penjamin emisi aksi korporasi itu mengatakan, pihaknya masih akan melakukan kajian menyeluruh terhadap rencana pelepasan saham Garuda.
Menurutnya, tidak hanya kesiapan emitennya sendiri, namun juga kondisi industri penerbangan nasional serta pasar modal di dalam negeri.
"Bisa saja emitennya (Garuda) sedang dalam kondisi tidak baik, tapi ternyata pasar dan industrinya sedang bagus. Jadi ada kesempatan untuk menjual," ujarnya.
Marciano menambahkan, namun bisa saja semua persiapan berjalan lancar tetapi pembelinya malah tidak ada. "Faktor-faktor ini yang harus kita kaji lebih lanjut. Jadi kalau ditanya kesiapan dari underwriter, kita masih akan mengkaji," imbuhnya.
Sebelumnya, dari data kinerja BUMN triwulan III-2010, Garuda membukukan rugi bersih sebanyak Rp 39,510 miliar, padahal sampai akhir tahun lalu sudah meraup laba bersih sebanyak Rp 1,08 triliun.
Garuda berniat melepas sahamnya di triwulan I-2011. Namun jika ingin melaksanakan aksi korporasi itu sesuai target, maka maskapai pelat merah itu harus menggunakan laporan keuangan di akhir September 2010.
Â
Â
(ang/dro)











































