Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar yakin kalau polemik yang terjadi dalam penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) tidak akan menggangu atau mempengaruhi jalannya dua aksi korporasi BUMN lainnya, yaitu rights issue PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan PT Bank Mandiri Tbk.
"Belum tentu (berpengaruh), karena semuanya masih tergantung hasil roadshow nanti. Mudah-mudahan BNI bisa dapat (dana asing) lebih banyak," kata Mustafa di sela acara Investor Summit dan Capital Market 2010 di Hotel Ritz Calton, SCBD Jakarta, Kamis (11/11/2010).
Ia mengatakan, aksi korporasi ini nanti masih akan ditawarkan kepada investor asing. Namun, pemerintah dan BUMN yang bersangkutan masih belum membicarakan jatah investor asing dan lokal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah masih berencana menarik investor asing yang berkualitas dalam privatisasi BUMN ke depan. Padahal, sebelumnya investor asing sudah mengeruk keuntungan tinggi melalui IPO Krakatau Steel kemarin.
Saat itu, saham BUMN baja tersebut dijual dengan harga murah dan akhirnya dilepas saat harganya sudah menanjak naik sehingga asing mengantongi keuntungan margin yang signifikan.
Krakatau melepas 3,15 miliar lembar saham di harga Rp 850 per lembar saham. Pada saat pembukaan bursa, harganya melesat jadi Rp 1.250. Seharusnya, harga saham KS ini bisa dilepas langsung di harga Rp 1.250 tersebut.
Dengan demikian ada selisih harga sebanyak Rp 400 per lembar. Jika dikalikan dengan jumlah saham yang dilepas, maka total selisihnya sekitar Rp 1,26 triliun.
Investor asing menjadi pihak yang memborong saham KS di awal perdagangan dan akhirnya melepas banyak-banyak saat harganya sudah naik menjelang penutupan bursa.
Pada penutupan Sesi I perdagangan kemarin, saham KS langsung diburu investor lokal dan asing hingga harganya sempat melesat 47,05% ke Rp 1.250 per saham. Namun, investor asing tidak mau lama-lama memegang saham KS dan mencatat jual bersih (net sell) Rp 271,671 miliar.
Sampai penutupan bursa, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih saham KS senilai Rp 378,693 miliar. Kepemilikan asing di saham KRAS kini hanya tersisa 5% saja.
Pada kesempatan yang sama, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menilai polemik yang terjadi atas saham emiten berkode KRAS itu tidak hanya mempengaruhi pasar modal, tapi juga investasi langsung (foreign direct investment/FDI).
"Saya khawatir (penyerapan asing ke right issue BNI dan Bank Mandiri), tapi mudah-mudahan tidak. Pengaruh juga bisa terjadi pada investasi langsung, FDI," jelas Fuad.
Untuk itu, Fuad mengajak seluruh pihak menahan diri agar tidak berkomentar yang bisa menjadi polemik berkepanjangan.
"Sebaikanya pada ngerem, menahan diri. Ini tanggung jawab kita semua agar situasi nampak baik. Kesannya kita anti asing. Ini kan dunia sudah global," paparnya.
(ang/qom)










































