Follow detikFinance
Selasa, 23 Nov 2010 09:18 WIB

Market Flash eTrading

- detikFinance
Jakarta - Indeks Dow Jones kemarin ditutup melemah 24 point (-0.22%) ke level 11,178.58 sehubungan dengan kekhawatiran akan gagalnya bailout yang sedang dilakukan di Irlandia serta aksi agen federal AS yang sedang melakukan investigasi terhadap beberapa hedge funds di AS terkait kasus insider trading yang terjadi di AS. Sementara di Indonesia IHSG kemarin (22/11) ditutup menguat 19 point (+0.43%) di kisaran 3,741. RSI masih berada diatas garis 50% yang menandakan masih dalam posisi bullish dan dari stochastic terlihat sudah melakukan golden cross dari tiga hari perdagangan yang lalu dan semua indikator masih belum menunjukkan adanya tanda overbought. Asing sendiri tercatat masih melakukan net buy sebesar Rp 403 Miliar di pasar regular. Pada hari ini IHSG diperkirakan masih akan bergerak dikisaran 3,715 – 3,779 dengan saham – saham yang dapat diperhatikan a.l. CPIN, KRAS, SMGR dan MAPI.

BBNI: BNI Kucuri Kredit Rp500 Miliar untuk Bangun Hotel
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) segera menyalurkan kredit sebesar Rp450 miliar-Rp500 miliar guna membiayai pembangunan hotel di Bali. Direktur BNI Krishna Suparto menyebutkan kredit tersebut merupakan kredit tahap pertama yang bakal dikucurkan pada sebuah pengembang hotel di Bali. Penarikan plafon kredit yang dilakukan secara bertahap itu menurutnya karena proyek tersebut dilakukan untuk beberapa tahun (multiyears). Selain menyiapkan kredit pariwisata, menurutnya perseroan juga berupaya menyalurkan kredit di sektor energi, minyak da n gas (migas). Dia menyebutkan, perseroan telah menyalurkan kredit sektor energi sebesar Rp10 triliun. Kredit tersebut salah satunya digunakan untuk pendanaan proyek pembangkit listrik 10 ribu megawatt.

Comment: Langkah BNI ini untuk menggenjot penyaluran kredit yang sampai pada kuartal III telah mencapai 126.07 trilliun atau meningkat 3.24% dari periode sebelumnya, peningkatan ini membuat pendapatan bunga bersih naik 8.36% menjadi 9 trilliun. Laba bersih sampai kw 3 2010 naik 59% menjadi 2.95 trilliun, manajemen optimis target net p rofit tahun ini sebesar 3.6 trilliun dapat tercapai. BNI tetap harus berhati hati dalam penyaluran kredit walaupun saat ini NPL berada pada level 4.4%. Ka mi melihat prospek bisnis pariwisata masih baik namun semua tetap kembali kepada feasibility study dari propsek bisnis debitor ho tel tersebut. Prosp ek perseroan setelah RI akan meningkatkan book value yang otomatis seca ra valuasi dengan multiple PBV yang sama akan meningkatkan harga. 16 analis merekomendasikan buy 5 hold dan 1 sell dengan target harga rata-rata 4500 dan target harga tertinggi 5300.

GZCO: Bank Mandiri Kucurkan Rp 375 M ke Anak Usaha Gozco Plantations
PT Bank Mandiri Tbk mengucurkan fasilitas kredit investasi sebesar Rp 375 miliar kepada PT Golden Blossom Sumatra (GBS), anak perusahaan Gozco Plantations. Fasilitas kredit ini akan digunakan untuk membiayai pengembangan kebun kelapa sawit GBS seluas 7.446 hektar di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan

Comment: Kami melihat hal ini sebagai suatu hal yang positif terhadap perusahaan dimana kenaikan jumlah produksi dari CPO Kernel akan berpengaruh terhadap kenaikan pendapatan perusahaan yang paling tidak baru dapat dirasakan hasilnya paling cepat dalam tiga tahun mendatang mengingat siklus CPO yang baru dapat dipanen setelah tiga tahun pasca penanaman. Namun dengan tenor serta interest yang tepat dari pinjaman ini, maka kami masih yakin dengan target harga saham GZCO yaitu sebesar Rp 420 rupiah per lembar saham.

DYNA: Dynaplast Akan Go Private
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan efek (suspensi) PT Dynaplast Tbk (DYNA). Suspensi tersebut terkait rencana perseroan mengubah statusnya dari perusahaan terbuka menjadi tertutup serta penghapusan pencatatan saham perseroan secara sukarela.

Comment: Perusahaan mengajukan permohonan atas ren cana go private dan voluntary delisting pada tanggal 19 November 2010. Pada perdagangan hari tersebut saham DYNA sempat menyentuh level 3,750 dan ditutup pada level 3,500 atau mengalami kenaikan sebesar 13% yang dipicu oleh berita go private tersebut. Sebagai tambahan informasi, sampai dengan periode kwartal III perusahaan mengalami kenaikan 6.6% dari segi total pendapatan dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Economic & Strategy

Property: KPR masih dominasi kredit properti
Kredit pemilikan rumah (KPR) diperkirakan tetap mendominasi penyaluran kredit properti pada tahun depan. Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Iqbal Latanro mengatakan peningkatan KPR pada 2011 dan tahun -tahun mendatang terutama didorong oleh tingginya kebutuhan perumahan di Indonesia.

Comment: Dari data Bank Indonesia yang terakhir per September 2010, dari seluruh total kredit yang diberikan kepada sector property dari selu ruh bank yang ada di Indonesia sudah mencapai Rp. 455 trilun, dimana yang disalurkan untuk KPR dan KPA hampir mencapai 58%, atau sebesar Rp. 261 triliun. Sementara apabila dilihat dari a wal tahun pertumbuhannya adalah sebesar 5 .5%. Kenaikan tertinggi terjadi pada bulan Juni, yaitu sebsar 7.5% (MoM). Kalau melihat dari prospek kedepannya, selain dari kebutuhan akan perumahan yang terus bertambah, kondisi ekonomi makro juga menjadi penentu dari pertumbuhan kredit atas kepemilikan rumah. Tingkat suku bunga dan inflasi yang menjadi “variable” penentu baik dari sisi “supplier” dari sisi cost of funds dan construction, juga dari sisi pembeli/demand akan mempengaruhi kemampuan daya belinya. Menjawab keadaan sector property kedepannya, apablia BI masih dapat mempertahankan kedu laju “variables” yang disebutkan diatas, maka sector property ini masih sangat menjanjikan kedepannya, namun tidak dipungkiri, apabila untuk mendapatkan rumah atau apartemen dengan harga yang masih relative murah permintaan akan mungkin terus menggenjot kenaikan harga yang mungkin akan berdampak kepada harga yang terefleksi dari marjin (Net Profit Margin) yang diperoleh oleh developer/kontraktor.

Energy: Premium Dibatasi, Harga Mobil di Bawah 2005 Melonjak
Larangan konsumsi BBM bersubsidi untuk mobil di atas tahun 2005 mulai tahun 2011 akan mendorong kenaikan penjualan mobil seken. Para pedagang mobil bekas bakal menmemperkirakan kebijakan itu akan mendongkrak kenaikan harga mobil dibawah tahun 2005 hingga 20 persen. "Kalau ini sampai terjadi, buat mobil second akan naik terutama untuk mobil dibawah tahun 2005 ke bawah, orang akan memburu," kata Senior Marketing Manager Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, Herja nto Kosasih saat dihubungi detikFinance, Senin (22/11/2010).

Comment: Kebijakan pembatasan premiu m (BBM bersubsidi) untuk mobil diatas tahun 2005, menurut ka mi bukanlah langkah tepat dalam upaya pengetatan penggunaan BBM bersubsidi. Meskipun dengan langkah tersebut diharapkan dapat mereduksi defisit APBN, namun kebijakan tersebut dapat emperlambat pertumbuhan industri otomotif. Dari sudut pandang ekonomi khususnya industri otomotif, kebijakan tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan perusahaan manufaktur (pabrikan) dan penjualan mobil baru. Penurunan penjualan mobil baru akan berdampak pula pada penu runan penyaluran kredit kendaraan bermotor. Hal ini tentunya berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi indonesia secara umum.



(etr/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed