IHSG Diterpa Krisis di Korea dan Eropa

Ulasan Sepekan

IHSG Diterpa Krisis di Korea dan Eropa

- detikFinance
Senin, 29 Nov 2010 06:55 WIB
Jakarta - Bursa saham indonesia serta rupiah pekan lalu kompak ditutup melemah, IHSG ditutup melemah pada level 3642.5 atau tercatat melemah sebesar 2.22% dibandingkan pekan sebelumnya.

Sedangkan rupiah ditutup melemah mendekati level Rp 9.000 per dolar AS, menurut catatan BI nilai tengah rupiah pada akhir perdagangan pekan lalu ditutup pada level Rp 8.966 per dolar AS.

"Pelemahan yang terjadi pada rupiah dan IHSG tersebut didorong oleh tiga sentimen makro yang telah meningkatkan kekhawatiran para investor terhadap outlook ekonomi dunia," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya, Senin (29/11/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, investor global mulai khawatir dengan semakin memanasnya kondisi di Semenanjung Korea, tanda-tanda menjalarnyaΒ  krisis utang Eropa ke Portugal dan spanyol serta rencana kebijakan pembatasan ekspansi kredit oleh perbankan di China.

Seperti diketahui bahwa semenanjung korea saat ini diambang perang setelah pekan lalu Korea Utara memprovokasi Korea Selatan dengan menembakkan artileri ke sebuah pulau yang terletak di perbatasan kedua wilayah sehingga menewaskan 2 tentara Korsel.

"Ancaman perang korea tersebut menimbulkan kekhawatiran dipasar karena akan mempengaruhi perekonomian negara lainnya di Asia mengingat Korsel merupakan salah satu pasar dan eksportir terbesar asia. Kekhawatiran dari semenanjung korea tersebut mendorong investor global untuk keluar sementara dari Asia dan mengalihkan investasi nya ke instrument safe haven seperti dolar AS dan US Treasury," urai Fikri.
Β 
Sedangkan dari Eropa dikabarkan kondisi perekonomian Irlandia semakin mengkhawatirkan setelah S&P ratings services menurunkan rating utang irlandia 2 level langsung menjadi A dari sebelumnya AA-. Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi upaya pemulihan ekonomi Eropa.

Disamping itu merebaknya kabar di pasar bahwa Spanyol dan Portugal akan menjadi negara selanjutnya yang membutuhkan bailout semakin mengkhawatirkan investor. Perlu diketahui bahwa saat ini kinerja obligasi Portugal tengah menurun setelah keluarnya laporan bahwa mayoritas negara di Uni Eropa dan bank sentral Uni Eropa telah mendorong Portugal untuk menyusun rencana bailout mengikuti jejak Irlandia.

"Namun demikian kekhawatiran terbesar tentunya datang dari Spanyol, mengingat ekonomi negara ini mencerminkan 11.8% dari total ekonomi Uni Eropa. Ancaman jatuhnya ekonomi Spanyol tidak hanya mengkhawatirkan Eropa tapi juga pasar global secara keseluruhan. Oleh karena itu perkembangan perekonomian Spanyol akan menjadi motor penggerak pergerakan mata uang EURO serta langkah investor beberapa pekan kedepan," papar Fikri.

Diluar Korea dan Eropa, sentimen negatif lainnya datang dari China setelah pemerintah negara tersebut mengeluarkan kampanye kepada perbankan untuk membatasi rencana ekspansi kredit, setelah inflasi dan harga properti di China naik secara signifikan. Ancaman perlambatan ekonomi Asia sebagai dampak dari kebijakan China tersebut semakin meyakinkan investor global untuk keluar dari pasar Asia dan beralih ke dolar AS ataupun US Treasury.

Walaupun demikian, lanjut Fikri, bukan berarti pekan ini pasar tanpa sentimen positif. Karena dari Amerika dikabarkan bahwa meningkatnya consumer spending serta ekspektasi menurunnya angka pengangguran di Amerika dapat menjadi pemicu investor global untuk masuk ke pasar. Seperti diketahui bahwa laporan penjualan retailer Amerika selama libur Thanksgiving meningkat dibandingkan tahun sebelumnya hal tersebut menunjukkan bahwa konsumen di Amerika semakin percaya diri untuk membelanjakan uangnya sehingga dapat mendorong permintaan pasar domestik amerika.

Disamping itu departemen ketenagakerjaan Amerika juga melaporkan bahwa ekonomi Amerika pada bulan November akan mampu menambah 140 ribu pekerjaan baru sehingga diharapkan dapat menurunkan angka pengangguran di Amerika yang pada Oktober lalu berada pada angka 9,6%.

"Oleh karena itu bursa saham global pekan depan akan diwarnai perang sentimen, namun demikian, kuatnya sentimen negatif yang muncul dipercaya akan menekan pergerakan bursa saham global termasuk bursa saham Indonesia sehingga IHSG pekan ini akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Pelemahan IHSG dapat dilihat dimana pekan lalu IHSG tidak mampu bertahan pada level support nya di 3700 serta 3650," urainya.


Review oleh: Muhammad Fikri, STP,MBA (Analis PT BNI (Persero) Tbk)
NB: Review tidak mencerminkan pandangan institusi.


(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads