Penyelidikan Insider Trading Bikin Lesu Wall Street

Penyelidikan Insider Trading Bikin Lesu Wall Street

- detikFinance
Rabu, 08 Des 2010 07:17 WIB
Penyelidikan Insider Trading Bikin Lesu Wall Street
New York - Saham-saham di bursa Wall Street sempat melonjak setelah investor mendapatkan suntikan semangat dari berlanjutnya kebijakan pemotongan pajak.

Namun antusiasme investor surut setelah imbal hasil obligasi melonjak dan adanya laporan bahwa regulator AS sedang meningkatkan penyidikan atas dugaan insider trading.

Indeks S&P 500 sempat melonjak ke titik tertingginya dalam 2 tahun terakhir setelah Presiden AS Barack Obama berhasil mencapai kesepakatan dengan partai Republik untuk memperbarui era pemangkasan pajak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Reli harga saham-saham itu kemudian terhenti setelah imbal hasil surat berharga berjangka 10 tahun melonjak ke titik tertingginya sejak Juni dan harga surat utang pun langsung melorot tajam.

"Pukulan yang diterima surat berharga pada hari ini membingungkan. Kenaikan suku bunga bisa cukup untuk menghentikan reli saham-saham di jalurnya," ujar Peter Boockvar, analis dari Miller Tabak & Co seperti dikutip dari Reuters, Rabu (8/12/2010).

Pada perdagangan Selasa (7/12/2010), indeks Dow Jones melemah tipis 3,03 poin (0,03%) ke level 11.359,16, indeks Standard & Poor's 500 menguat tipis 0,63 poin (0,05%) ke level 1.223,75 dan Nasdaq menguat 3,57 poin (0,14%) ke level 2.598,49.

Volume perdagangan melonjak, dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 11 miliar lembar saham, jauh melebihi rata-rata sepanjang tahun ini yang sebesar 8,63 miliar lembar saham.

Kenaikan imbal hasil surat berharga itu masih ditambah oleh sentimen negatif dari kabar yang menyebutkan Bapepam AS atau U.S. Securities and Exchange Commission telah melakukan lusinan penyelidikan atas dugaan insider trading di Wall Street. Hal itu pun berpotensi menggerus kepercayaan publik pada pasar.

Saham Citigroup tercatat menguat hingga 3,8% menjadi US$ 4,62 per lembar dalam volume transaksi yang sangat besar setelah pemerintah AS menjual sisa sahamnya di perusahaan finansial itu.
(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads