Namun antusiasme investor surut setelah imbal hasil obligasi melonjak dan adanya laporan bahwa regulator AS sedang meningkatkan penyidikan atas dugaan insider trading.
Indeks S&P 500 sempat melonjak ke titik tertingginya dalam 2 tahun terakhir setelah Presiden AS Barack Obama berhasil mencapai kesepakatan dengan partai Republik untuk memperbarui era pemangkasan pajak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pukulan yang diterima surat berharga pada hari ini membingungkan. Kenaikan suku bunga bisa cukup untuk menghentikan reli saham-saham di jalurnya," ujar Peter Boockvar, analis dari Miller Tabak & Co seperti dikutip dari Reuters, Rabu (8/12/2010).
Pada perdagangan Selasa (7/12/2010), indeks Dow Jones melemah tipis 3,03 poin (0,03%) ke level 11.359,16, indeks Standard & Poor's 500 menguat tipis 0,63 poin (0,05%) ke level 1.223,75 dan Nasdaq menguat 3,57 poin (0,14%) ke level 2.598,49.
Volume perdagangan melonjak, dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 11 miliar lembar saham, jauh melebihi rata-rata sepanjang tahun ini yang sebesar 8,63 miliar lembar saham.
Kenaikan imbal hasil surat berharga itu masih ditambah oleh sentimen negatif dari kabar yang menyebutkan Bapepam AS atau U.S. Securities and Exchange Commission telah melakukan lusinan penyelidikan atas dugaan insider trading di Wall Street. Hal itu pun berpotensi menggerus kepercayaan publik pada pasar.
Saham Citigroup tercatat menguat hingga 3,8% menjadi US$ 4,62 per lembar dalam volume transaksi yang sangat besar setelah pemerintah AS menjual sisa sahamnya di perusahaan finansial itu.
(qom/qom)











































