Tidak hanya itu, pembangunan pabrik butadiene milik perseroan juga siap dilaksanakan di bulan Juni 2011, dengan menghabiskan dana US$ 100 juta.
Menurut Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Erwin Ciputra, proses merger telah mendapat persetujuan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tentang Ijin Usaha Penggabungan Perusahaan Penanaman Modal pada 31 Desember 2010, dengan No. 5/1/IU/IV/PMA/Industri/2010.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan efektifnya merger, memudahkan kami untuk melakukan berbagai langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas serta nilai tambah perseroan di industri petrokimia," kata Erwin dalam keteranfan tertulisnya, seperti dikutip detikFinance, Senin (4/1/2011).
Peningkatan kapasitas produk petrokimia CPA akan dilakukan mulai Maret 2011. Produksi polypropylene akan naik dari 360 ribu ton menjadi 480 ribu ton per tahun, dengan penambahan mesin baru. Biaya investasi mencapai Rp 300 miliar. Selain polypropylene, perseroan juga akan meningkatkan kapasitas produksi ethylene dari 600 ribu ton menjadi 1 juta ton per tahun dan polyethylene dari 320 ribu ton menjadi 540 ribu ton dalam kurun waktu 3 sampai 5 tahun mendatang.
Sementara, pembangunan pabrik butadiene akan dilaksanakan pada Juni 2011 dan akan tuntas di tahun 2013. Diharapkan pabrik baru dapat menyambung mata rantai produksi petrokimia dari hulu ke hilir.
Total investasi untuk pembangunan pabrik butadiene mencapai US$ 100 juta dengan berkapasitas 100 ribu ton per tahun. Produksi akan butadiene dilakukan oleh anak perusahaan CAP, yaitu PT Petrokimia Butadiene Indonesia.
Produksi butadiene memang ditujukan untuk memenuhi pasar dalam negeri, yang hasilnya adalah bahan campuran untuk membuat karet sintetis dan menjadi salah satu komponen pembuat ban serta berbagai komponen otomotif lain. Selama ini, kebutuhan butadiene dalam negeri masih diimpor dari luar negeri seperti Jepang dan Korea.
"Dengan tersedianya butadiene di dalam negeri, maka sebagian biaya produksi ban dan otomotif dapat dipangkas. Sehingga, industri petrokimia dan otomotif nasional mempunyai kesempatan untuk tumbuh berkembang dalam beberapa tahun mendatang," ucap Erwin.
CAP akan menjadi perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia dengan total aset mencapai US$ 1,5 miliar atau sebesar Rp 13,5 triliun (dengan kurs US$ 1 = Rp 9.000,00).
"Dengan menjadi perusahaan petrokimia yang terintegrasi, CAP memiliki kemampuan mendapatkan pendanaan baik dari domestik maupun internasional serta menyambung mata rantai dari hulu ke hilir di sektor petrokimia," tuturnya.
Perseroan merupakan perusahaan hasil merger vertikal antara dua perusahaan petrokimia terafiliasi yang merupakan anak usaha dari PT Barito Pacific Tbk., yakni PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk. Proses merger telah mendapat persetujuan pemegang saham PT Tri Polyta Indonesia Tbk melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 27 Oktober 2010.
Paska merger, struktur kepemilikan CPA, 66,36% saham dimiliki PT Barito Pacific Tbk. 22,87% saham dikuasai Glazers and Putnam Investment Ltd dan Marigold Resources Pte. Ltd memiliki 5,52% saham. Kepemilikan individu, seperti Prajogo Pengestu menyisakan 1,04%, Ibrahim Risjad 0,45%, Henry Halim 0,06% dan masyarakat 3,7% (masing-masing di bawah 5%). (wep/qom)











































