BI: Rupiah Bakal Terus Menguat di 2011

BI: Rupiah Bakal Terus Menguat di 2011

- detikFinance
Rabu, 05 Jan 2011 18:15 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyakini tren penguatan rupiah terhadap dolar AS masih akan berlangsung selama 2011. Hal tersebut seiring dengan arus modal masuk (capital inflow) yang masih mengucur deras ke negera berkembang sebagai akibat dari kebijakan Quantitative Easing yang belum sepenuhnya digelontorkan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono mengungkapkan belakangan terjadi pelemahan nilai tukar rupiah, tetapi hal tersebut lebih kepada efek global yang bersifat sementara.

"Pelemahan nilai tukar rupiah kemarin, karena ada berbagai concern di global dan concern itu kan juga temporary. Mudah-mudahan akhir-akhir ini sudah kembali menguat, dan tadi juga ada pertanyaan apakah tren menguat ini ada asosiasinya dengan inflow ke depan. Di 2011 itu yang namanya quatitatif easing belum sepenuhnya dilakukan di tahun 2010," ujarnya di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (5/1/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Quantitative Easing, lanjut Hartadi akan lebih besar terjadi di 2011 oleh karena itu masih ada inflow ke negara-negara berkembang. Namun, Hartadi mengungkapkan bank sentral tetap selalu mencari risiko-risiko yang terburuk dari perkembangan ekonomi global.

"Nah waspadai bahwa Eropa masih belum selesai, apabila penanganan di Eropa nanti memburuk, meskipun nanti terlalu banyak direct hubungan dengan Indonesia, perbankan dengan Indonesia, doing business dengan Indonesia mungkin sudah tidak sebesar itu. Namun kita harus waspadai karena ada kemungkinan bisa menjadi tren flight to quality," paparnya.

Lebih jauh Hartadi menilai, investor terus akan mencari aset-aset yang baik karena flight to quality tersebut. Bahkan, ada kemungkinan modal akan keluar dari emerging market masuk ke aset pribadi.

"Nah itu yang harus kita waspadai, meskipun kita masih percaya bahwa nilai tukar itu masih dalam stabil dalam tren yang menguat. Namun ada risiko, risiko ini yang perlu kita waspadai. Bisa saja kemungkinan kalau flight quality-nya bisa dari Indonesia ke Amerika, tapi dari negara lain ke Amerika, maka tidak akan mengganggu rupiah terhadap dolar," ujar Hartadi.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads