Kenaikan Peringkat RI Tak Bisa Langsung Dongkrak IHSG

Kenaikan Peringkat RI Tak Bisa Langsung Dongkrak IHSG

- detikFinance
Senin, 17 Jan 2011 20:12 WIB
Jakarta - Arus modal asing akan kembali masuk Indonesia usai isu inflasi mereda. Peningkatan peringkat dari Lembaga pemeringkat, Moody's Investor Service, dari Ba2 menjadi Ba1, tidak secara langsung memperbaiki arus modal yang masuk dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Hal ini disampaikan Ekonom Mirza Adityaswara kepada detikFinance di Jakarta, Senin (17/1/2011).

"Peningkatan rating Indonesia ini sebagian sudah priced in," jelas Mirza.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya, sejatinya investor telah mengatisipasi peningkatan ini jauh-jauh hari, berupa masuknya arus modal asing di 2010 di pasar saham atau pasar Surat Utang Negara (SUN).

Pada pengumuman siang ini pun, terbukti belum berpengaruh signifikan terhadap membaiknya IHSG. Ini terbukti Indeks yang melemah 33,413 poin (0,94%) ke level 3.535,731 pada penutupan perdagangan Senin (17/1/2011). Sementara Indeks LQ45 turun 6,775 poin (1,08%) ke level 622,292.

Mirza menilai, arus modal asing akan kembali masuk dan memperbaiki pasar uang dan menopang ekonomi Indonesia kembali, pasca isu inflasi berakhir dan tidak lagi menjadi buah bibir pelaku ekonomi dalam negeri.

"Nanti setelah gonjang-ganjing pasar tentang inflasi mereda, maka capital inflow akan masuk lagi di 2011," tegasnya.

Seperti diketahui, lembaga pemeringkat, Moody's Investor Service menaikkan peringkat surat utang Indonesia dari Ba2 menjadi Ba1, atau satu peringkat di bawah 'investment grade'. Perbaikan peringkat ini diberikan karena Moody's menilai ada perbaikan dari sisi surat utang pemerintah, membaiknya prospek Penanaman Modal Asing (PMA) dan cadangan devisa yang cukup besar.

Peringkat Moody's ini setara dengan peringkat yang diberikan lembaga pemeringkat lain, Fitch Ratings di 'BB+' dan satu peringkat lebih tinggi dari peringkat S&P di 'BB'.

Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto menjelaskan, kenaikan peringkat dari Moody's ini sangat spesial bagi Indonesia karena diberikan kepada suatu negara di tengah situasi negara-negara lain di berbagai kawasan yang sedang mengalami masa sulit.

(wep/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads