Investor Ragu, Indeks Melemah 3,810 Poin

Investor Ragu, Indeks Melemah 3,810 Poin

- detikFinance
Selasa, 04 Mei 2004 16:26 WIB
Jakarta - Pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (4/5/2004), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) masih melemah dan tercatat turun 3,810 poin pada level 779,603. Penurunan indeks dipicu karena investor masih ragu untuk mengambil posisi karena menunggu rencana bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) yang akan menaikkan suku bunga.Indeks LQ-45 yang memuat 45 saham yang paling aktif ditransaksikan turun 0,509 poin pada level 170,141, Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,051 poin pada level 130,431, Indeks Papan Utama (MBX) turun 1,901 poin pada level 210,766 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) naik 0,601 poin pada level 178,825.Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 10.298 kali pada volume 1,583 juta lot saham senilai Rp 744,891 miliar. Sebanyak 42 saham mencatat kenaikan harga, 65 saham turun dan 281 saham lainnya stagnan.Saham-saham yang mencatat penurunan harga terbesar (top loser) di antaranya International Nickel (INCO) turun Rp 3.000 menjadi Rp 31.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 menjadi Rp 14.050, Timah (TINS) turun Rp 125 menjadi Rp 2.200, Bank BRI (BBRI) turun Rp 100 menjadi Rp 1.625, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 100 menjadi Rp 5.000, United Tractors (UNTR) turun Rp 75 menjadi Rp 1.575, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 75 menjadi Rp 750 dan Indofood Sukses Makmur (INDF) turun Rp 25 menjadi Rp 725.Sementara saham-saham yang mencatat kenaikan harga tertinggi di jajaran top gainer di antaranya Astra Internasional (ASII) naik Rp 300 menjadi Rp 6.000, Indosat (ISAT) naik Rp 150 menjadi Rp 4.125, Telkom (TLKM) naik Rp 50 menjadi Rp 8.100, Bank Danamon (BDMN) naik Rp 25 menjadi Rp 3.300, Bank BCA (BBCA) naik Rp 25 menjadi Rp 3.925, Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 25 menjadi Rp 1.225 dan Bank BNI (BBNI) naik Rp 25 menjadi Rp 1.325.Meski sejumlah emiten mencapai kinerja yang baik pada kuartal pertama 2004 berdasarkan laporan keuangan yang diterbitkan, namun investor masih belum berani untuk melakukan aksi beli. Kondisi ini membuat indeks belum juga mengalami kenaikan karena investor masih menunggu pengumuman The Fed malam nanti.Menurut Edwin Sinaga dari Kuo Capital Raharja, indeks seharusnya sudah mulai rebound setelah pekan lalu mengalami penurunan cukup signifikan. Apalagi, penjualan bersih (net selling) investor asing pekan lalu masih jauh dari posisi net buying-nya, sehingga masih ada potensi besar investor asing untuk kembali masuk pasar.Edwin juga menilai, faktor regional saat ini sedang melemah akibat kebijakan Cina yang mengerem laju pertumbuhan ekonomi, di samping rencana The Fed menaikkan suku bunga. Namun, kata dia, seharusnya hal itu tidak terlalu berdampak terhadap bursa saham Indonesia. (ani/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads