Demikian disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan Medco Cisca Alimin dalam siaran pers, Senin (24/1/2011).
"Perseroan berencana akan menjadikan kepemilikan saham di DSLNG menjadi sekitar 11,1% setelah FID atau Keputusan Akhir untuk Investasi," ujar Cisca.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, selain Medco, pemegang saham Donggi-Senoro adalah Mitsubishi Corporation sebesar 51% dan Pertamina Energy Service sebesar 21%.
Donggi-Senoro akan membangun dan mengoperasikan fasilitas kilang LNG dengan kapasitas sekitar 2 (dua) juta ton per tahun. Jumlah biaya keseluruhan untuk mengembangkan Proyek LNG ini adalah sekitar US$ 2,8 milyar, termasuk biaya pengambilalihan lahan, infrastuktur, biaya operasi selama masa konstruksi (Owner Cost), dan biaya Project Financing.
Dikatakan Cisca, Donggi-Senoro akan mulai memproduksi dan mengirimkan LNG dan kondensat pada triwulan III-2014. LNG ini akan dikirimkan kepada Chubu Electric Power Co., Inc. (Chubu), Kyushu Electric Power Co. Inc. (Kyushu), and Korea Gas Corporation (Kogas). Pengiriman kargo LNG pertama kepada para pembeli di targetkan untuk dimulai pada triwulan III-2014.
"Penjualan gas alam dari lapangan Senoro kepada Donggi-Senoro ini akan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan Pemerintah Indonesia. Pengembangan fasilitas gas Senoro akan mulai segera. Jumlah biaya keseluruhan untuk fasilitas hulu berupa Fasilitas Pemrosesan Gas, Jalur Pipa, Pemboran, penanganan kondensat dan pelabuhan adalah sekitar US$ 600 juta, dengan target produksi gas pertama pada triwulan II-2014," tutur Cisca.
Cisca mengatakan, proyek pengembangan gas senoro merupakan salah satu dari tujuh Proyek Pengembangan Utama Medco yang dideklarasikan pada 2008 dan akan menjadi sumber pendapatan Medco di masa depan.
Selain itu Mitsubishi juga mengatakan akan mengajak Kogas untuk masuk dalam konsorsium Donggi-Senoro.
Perubahan komposisi saham Donggi-Senoro ini lewat penguasaan tidak langsung, yaitu sebagian saham Mitsubishi akan dialihkan ke sebuah SPC (special purpose company) yang 25% sahamnya dimiliki oleh Kogas.
Dengan begitu, ada 3 negara yang bergabung dalam konsorsium tersebut yakni Jepang (Mitsubishi), Korea (Kogas), dan Indonesia (Pertamina).
(dnl/dnl)











































