Porsi penjatahan investor ritel (pooling) saham perdana PT Garuda Indonesia (Persero) dalam masa penawaran umum mencapai Rp 200 miliar, atau lebih tinggi dari IPO BUMN sebelumnya, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Namun, hingga saat ini antrian investor yang akan membeli saham Garuda ini nampak sepi.
"Polling-nya kali ini Rp 200 miliar. Akan lebih bagus 5%," ungkap salah satu staf Biro Administrasi Efek IPO Garuda, PT Datindo Entrycom yang enggan disebut namanya, di Plaza Bapindo, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (2/2/2011).
Porsi investor retail memang dipastikan lebih besar, setelah Menteri BUMN Mustafa Abubakar menyampaikan bahwa pooling yang biasanya 2% akan naik menjadi 5% dari total saham yang ditawarkan kepada publik 6,335 miliar lembar. Bagi pemerintah, penambahan porsi alokasi investor retail bertujuan untuk memberi kesempatan pemerataan saham kepada publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semula, pemerintah menargetkan 30% saham akan ditawarkan kepada publik melalui penerbitan saham perdana. Dengan memperhatikan kebutuhan dana perseroan, maka penawaran saham publik diturunkan menjadi 26%.
"Saham yang di-IPO-kan menjadi 26%. Empat persen tidak perlu, dengan disesuaikan dengan kebutuhan Garuda," tuturnya.
Pemerintah kembali menegaskan, penyerapan saham untuk investor domesik akan lebih besar mencapai 80%. Ini terakumulasi atas investor institusi dan ritel lokal.
Dari sejumlah peminat atas saham Garuda, terdapat pendatang baru yang datang dari investor lokal. Namun pemerintah belum dapat menyebutkan hingga penjatahan usai dilakukan.
"Jarang sekali Airline yang IPO. Khusus Garuda ada investor newcomer. Domestik, newcomer dapat memperkuat basis investor kita. Kita ingin kualitas investor long term dan punya scene of belonging," ucap Mustafa kala itu.
Garuda melepas saham baru sebanyak 6,335 miliar lembar, atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Dengan harga pelaksanaan Rp 750 per lembar maka dana yang dapat Rp 4,751 triliun.
Uang ini tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham perdana. Saham Garuda milik BMRI sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar. Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk BMRI Rp 1,451 triliun. (wep/ang)











































