"Arahnya masih sama saja (menguat) artinya memang bagaimanapun ketidakseimbangan perkembangan negara maju itu, di negara berkembang mau ngga mau menguat karena arus modal berjalan," ujar Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution ketika ditemui disela acara 1 Abad Sjafruddin Prawiranegara di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin malam (28/1/2011).
Pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah dibuka stabil di kisaran Rp 8.810 per dolar AS. Rupiah hari ini diprediksi tidak akan bergerak terlalu lebar di kisaran 8.800-8.820 per dolar AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Darmin, bank sentral tidak akan mematok nilai tukar rupiah di posisi tertentu namun kisaran yang ditetapkan pada saat ini dinilai sudah paling tepat bagi eksportir dan importir.
"Sebenarnya kalau untuk perkembangan ekonomi kita, neraca pembayaran kita, ya munngkin posisi Rp 8.700/US$ sudah termasuk semua itu. Tapi BI tidak pernah mematok atau menargetkan, kita ikuti saja jangan rupiah terlalu kuat," jelas Darmin.
Lebih jauh Darmin mengatakan pada dasarnya apresiasi nilai tukar rupiah masih tergolong cukup rendah dibandingkan dengan negara tetangga. Bahkan, lanjut Darmin sampai dengan Februari 2011 ini apresiasi rupiah masih dibawah 4%.
"Tahun lalu itu apresiasi kita mungkin memang Korea lebih kecil tapi dibanding Malaysia dan Thailand. Kita cukup bagus yakni di sekitar 4%, nah sedangkan mereka (Thailand dan Malaysia) penguatannya diatas 8%.Sekarang itu sampai Februari 2011 mungkin kita tetap saja dibawah 4%," kata Darmin.
Darmin menyampaikan, pada tahun 2010 kemarin memang nilai tukar rupiah pernah tembus ke level Rp 8.800/US$ namun memang sempat melemah hingga US$ 9.000.
"Di 2010 memang pernah ke Rp 8000/US$ nah tapi bergerak lagi ke Rp 9000/US$ dan sekarang ke Rp 8.700/US$," tutup Darmin.
(dru/qom)











































