Imbal Hasil SPN Harus Diatas Deposito dan SBI

Imbal Hasil SPN Harus Diatas Deposito dan SBI

- detikFinance
Sabtu, 29 Mei 2004 15:53 WIB
Jakarta - Imbal Hasil SPN Harus Diatas Deposito dan SBIPara Manajer Investasi (MI) yang mengelola dana nasabah, meminta agar imbal hasil (yield) atau keuntungan dari Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang akan diterbitkan pemerintah harus diatas bunga deposito dan suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia).SPN juga diharapkan bisa mengisi kekosongan instrumen investasi terutama untuk periode jangka waktu menengah. Sehingga bisa meningkatkan likuiditas perdagangan surat utang."SPN bisa jadi salah satu alternatif investasi, cuma yieldnya masih jadi tanda tanya. Jika terlalu rendah investor akan lebih memilih ke obligasi jangka panjang. Kalau bisa diatas bunga deposito saat ini, ya, bisa 8-9 persen," kata Dirut Danareksa Investment Management Muhammad Hanif pekan ini di Jakarta.Diakui Hanif, saat ini ada kecenderungan investor menaruh dananya kembali ke deposito karena minimnya instrumen investasi terutama untuk surat utang jangka pendek dan menengah yang ada di pasar. Hal itu ditambah pula dengan adanya dana sebesar Rp 8,3 triliun atas obligasi VR005 yang jatuh tempo 25 Mei 2004 namun tidak bisa ditempatkan ke obligasi penggantinya.Senada dengan Hanif, Direktur MeesPierson Finas Investment Management, Eko P Pratomo mengatakan, ekspektasi yield SPN seharusnya mengikuti yield curve. Normalnya lanjut dia, makin panjang jangka waktu maka yieldnya makin tinggi. "Mestinya SPN yieldnya antara jangka pendek dan jangka panjang, berapa itu tergantung pasar. Kalau sekarang misalnya yield jangka panjang 10-12 persen dan SBI 7 persen maka SPN bisa antara 8,9 atau 10 persen," kata Eko.Menurut Eko, kondisi pasar obligasi saat ini sangat dipengaruhi oleh rumor naiknya suku bunga the Fed yang akan diikuti pula dengan naiknya SBI. Kondisi ini membuat harga obligasi menjadi turun yang membuat investor menahan investasinya di instrumen tersebut untuk dimasukkan ke deposito atau pasar uang. Namun dia menilai, kondisi ini hanya sementara sampai menunggu stabilitas ekonomi dan politik."Jadi saya sarankan agar diversifikasi di pendapatan tetap dan pasar uang, karena harga obligasi itu berfluktuasi, tapi bagaimana meminimalisir risiko lebih baik masuk ke jangka panjang karena kalau ada gejolak tidak perlu dijual tapi tunggu sampai jatuh tempo," ujarnya.Sedangkan Cholis Baidowi dari Assets Management Trimegah mengatakan, SPN yang sejenis dengan surat utang T-bills sangat dibutuhkan untuk para pengelola reksa dana. Pasalnya, pengelola reksa dana dalam hal ini Manajer Investasi saat ini membutuhkan instrumen investasi jangka pendek dan menengah setelah sekarang obligasi harganya turun. Apalagi lelang SBI juga pelaksanaannya sudah dijarangkan oleh Bank Indonesia, sehingga terjadi over liquidity.Dirut Utama Bursa Efek Surabaya (BES) Hindarmojo Hinuri, juga menilai, SPN bisa memenuhi kebutuhan pasar terhadap surat utang jangka pendek dan menengah karena adanya over liquidity. "Sekarang ini kan tidak match (cocok) antara kebutuhan pasar terhadap surat utang jangka pendek dan menengah tetapi yang dikeluarkan pemerintah obligasi (SUN) jangka panjang. Jadi SPN memiliki potensi untuk mengisi kekosongan itu," katanya. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads