Jepang Sedot Banyak Dana, Pasar Surat Utang Belum Terguncang

Jepang Sedot Banyak Dana, Pasar Surat Utang Belum Terguncang

- detikFinance
Senin, 14 Mar 2011 12:01 WIB
Tokyo - Jepang akan membutuhkan banyak dana setelah terjadinya gempa dan tsunami yang menelan 10.000 jiwa lebih. Jepang kemungkinan akan kehilangan kemampuannya untuk membeli surat utang AS, bahkan melepas US Treasury yang sudah dimilikinya untuk mencukupi kebutuhan rekonstruksinya.

Dan Fuss, vice chairman dari Loomis Sayles yang mengelola dana hingga US$ 150 miliar memperkirakan harga surat utang AS diperkirakan terus turun. Hal ini dikarenakan jepang yang merupakan pemegang surat berharga AS (US Treasury) terbesar kedua dan jumlahnya mencapai US$ 900 miliar dalam cadangan dolarnya. Dan Jepang kemungkinan akan menggunakan cadangannya itu untuk membangun kembali wilayah yang terkena gempa.

"Pembeli besar surat utang akan keluar dari pasar. Jepang akan berkurang kemampuannya untuk menambah cadangan dan kemampuannya membeli surat utang," ujar Fuss seperti dikutip dari Reuters, Senin (14/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Rahmat Waluyanto memperkirakan, jika Jepang melepas US Treasury, maka China yang kini merupakan pemegang obligasi AS terbesar kemungkinan akan menampungnya.

"Karena investasi US Treasury merupakan penempatan dana paling aman. China tidak mau harga US Treasury yang dipegang jatuh. Juga AS bisa saja akan buyback untuk kepentingan yang sama yaitu menjaga stabilisasi harga US Treasury. Juga negara-negara lain yang menempatkan sebagian besar cadangan devisanya di US Treasury," ujar Rachmat kepada detikFinance.

Jepang saat ini juga tercatat memegang Samurai Bond Indonesia dengan jumlah sekitar US$ 1 miliar, yang semuanya dipegang investor institusi. "Kalau mereka jual, akan menanggung rugi yang membuat balance sheet (neraca) mereka bleeding," tegasnya.

Sementara investor Jepang yang membeli surat utang lokal dan global bond Indonesia menurut Rahmat sangat kecil. Sehingga kalaupun terjadi reversal, menurut Rahmat potensinya sangat kecil.

"Ini disebabkan selama ini invetor Jepang hanya membeli surat berharga yang ratingnya investment grade. Indonesia kan masih belum investment grade, tapi akan segera mencapai level itu," ujarnya

Rachmat menegaskan, jika saat ini tingkat imbal hasil surat utang naik, bukan disebabkan karena kabar dari Jepang tersebut. "Kalau yield global bond naik, itu lebih banyak disebabkan ekspektasi inflasi global yang dominan karena kenaikan harga minyak dan komoditas," tambahnya.

(qom/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads