Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan perseroan di 2010, Senin (28/4/2011), meski penjualan bersih turun, perseroan bisa meningkatkan laba karena ada laba hasil divestasi sebesar Rp 67,75 miliar yang mengakibatkan beban perseroan menurun.
Penjualan bersih perusahaan pelat merah itu turun dari Rp 6,59 triliun di akhir 2009 menjadi Rp 6,02 triliun di akhir 2010, turun tipis 8,6%
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perseroan juga mencatat kenaikan aset dari Rp 5,7 triliun menjadi Rp 6,28 triliun di akhir 2010
Sepanjang 2010, harga saham WIKA sudah naik dua kali lipat dari Rp 325 per lembar di 2009 menjadi Rp 680 per lembar di akhir 2010.
Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 10.10 waktu JATS, harga saham WIKA naik 10 poin ke level Rp 680 per lembar. Sahamnya diperdagangkan 53 kali dengan volume 1.236 lot senilai Rp 413 juta.
Selama tahun 2010 WIKA memperoleh kontrak baru senilai Rp 10,22 triliun sehingga order book menjadi Rp 20,83 triliun.
Proyek-proyek tersebut diantaranya adalah Proyek Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan di Kalimantan Barat senilai Rp 1,3 triliun, Proyek Design & Build PT Golden Hope Nusantara Sime Darby Group senilai Rp 560 miliar, Proyek Pembangunan Jalan Layang Non Toll Kampung Melayu-Tanah Abang Stage Casablanca senilai Rp 314,29 miliar ,dan Jalan Bebas Hambatan di Kalimantan Timur senilai Rp 180 miliar.
Di 2011, WIKA menargetkan order book sebesar Rp 25,68 triliun atau naik 23,28% dari realisasi di 2010. Perseroan menaikan belanja modalnya (CAPEX) 26,5% lebih besar dari tahun lalu menjadi Rp 522 miliar, yang akan digunakan sebagai investasi alat Rp 79 miliar dan pengembangan usaha senilai Rp 443 miliar.
(ang/dnl)











































