Pada perdagangan Selasa (29/3/2011), indeks Dow Jones ditutup menguat 81,13 poin (0,67%) ke level 12.279,01. Indeks Standard &poor's 500 juga menguat 9,25 poin (0,71%) ke level 1.319,44 dan Nasdaq menguat 26,21 poin (0,96%) ke level 2.756,89.
Namun volume perdagangan sangat tipis, dengan transaksi di New York Stock Exchange hanya sebesar 6,2 miliar lembar saham, di bawah rata-rata harian tahun lalu yang mencapai 8,47 miliar lembar saham.Wall
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak berpikir banyak orang yang tahu apa yang harus dilakukan. Mereka mendengar tentang bagaimana bullishnya rekonstruksi Jepang, namun hingga bencana itu dihitung, mereka tidak akan melakukan apapun," ujar Shawn Hackett, presiden Hackett Advisors seperti dikutip dari Reuters, Rabu (30/3/2011).
"Ketika pasar tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka akan cenderung bergerak naik dengan volume yang rendah dan turun pada volume yang lebih tinggi karena orang-orang gugup, jadi mereka jual," imbuhnya.
Saham-saham sektor jasa perminyakan naik menyusul naiknya harga minyak mentah dunia hingga ke titik tertinggi sejak Agustus 2008. Indeks sektor jasa perminyakan naik hingga 1,9%.
"Hingga pasar minya terpatahkan, momentum pialang adalah membeli saham sektor jasa perminyakan karena itulah yang bekerja. Hingga minyak turun lagi di bawah US$ 100 per barel, Anda akan melihat saham jasa sektor perminyakan mendapatkan penawaran yang besar," urai Hackett.
Harga minyak mentah dunia kembali meningkat seiring kekisruhan di Libya yang tak kunjung usai. Minyak light sweet tercatat naik 0,8% menjadi US$ 105 per barel.
(qom/qom)











































