Akibat Kuota AS, Eratex Djaja Tutup Usahanya di Vietnam
Selasa, 15 Jun 2004 14:03 WIB
Jakarta -
Produsen tekstil PT Eratex Djaja Ltd Tbk (ERTX)menutup usaha patungannya yang ada di Vietnam akibat dampak dari pemberlakuan kuota garmen oleh Amerika Serikat kepada Vietnam.Perseroan menyatakan sudah tidak beroperasi lagi sejak Juli 2003. Demikian diungkapkan Presdir Eratex, James S. Wan, dalam paparan publik di Bursa EfekJakarta (BEJ), Selasa,(15/6/2004).Menurut James, usaha di Vietnam yang dirintis sejak tahun 2002 pada awalnya menguntungkan. Namun kondisi ini menjadi berubah ketika AS memberlakukan pembatasan kuota bagi Vietnam. "Dalam sekejab, permintaan kuota dari para pengusaha melebihi alokasi dari pemerintah Vietnam," kata James.Kebijakan ini kata James, mendorong harga kuota melonjak sehingga tidak memungkinkan bagi perseroan untuk meneruskan kegiatan usahanya di Vietnam. Apalagi lanjut James, perseroan tidak mungkin menaikkan harga jualnya karena sebelumnya tidak memperhitungkan biaya kuota.Dampak dari kasus itu akhirnya kata James, perseroan mengalami kehilangan kepercayaan dari para pembeli karena dibatalkannya pesanan dari pembei. "Pembatalan ini menyebabkan penghapusan nilai yang substansialdari persediaan dan kerugian," katanya. Untuk mengatasi kondisi ini perseroan kata James, akan berkonsentrasi pada bisnis inti manufaktur. Selain itu, perseroan juga akan mengembangkan pasarbaru di Eropa untuk mengantisipasi dihapuskannya sistem kuota pada tahun 2005.Akibat pemberlakuan kuota tersebut kata James, menyebabkan perseroan mengalami kerugian di tahun 2003 sebesar US$ 5,558 juta dibanding tahun sebelumnyayang mencatat laba bersih sebesar US$ 479 ribu. Meski demikian, penjualan perseroan naik menjadi US$ 46,2 juta dibanding tahun sebelumnya US$ 40,69 juta. Untuk tahun 2004 ini perseroan menargetkan pendapatan sebesar US$ 53,979 juta setara dengan Rp 458,82 miliar atau naik dari tahun lalu sebesar US$ 46,19 juta atau setara Rp 391,007 miliar. Kontribusi pendapatan 2004 diharapkan dari Eratex Djaja sebesar Rp 421,926 miliar atau setara US$ 49,639 juta dan Asiatex Garminda sebesar US$ 4,34 juta atau setara Rp 36,893 miliar dibanding tahun lalu sebesar US$ 7,587 juta atau setara Rp 64,223 miliar.
(ir/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































