2004, Daya Sakti Unggul Targetkan Kenaikan Penjualan 5,13%

2004, Daya Sakti Unggul Targetkan Kenaikan Penjualan 5,13%

- detikFinance
Rabu, 16 Jun 2004 14:01 WIB
Jakarta - Perusahaan pengolah kayu lapis (plywood) PT Daya Sakti Unggul Corporation Tbk (DSUC) menargetkan pendapatan sebesar Rp 532 miliar pada akhir tahun 2004 atau naik sekitar 5,13 persen dibanding tahun lalu sebesar Rp 506,117 miliar. Dengan target penjualan tersebut perseroan mengharapkan bisa membukukan laba bersih sebesar Rp 33 miliar pada akhir tahun 2004 dibanding tahun lalu yang rugi bersih sebesar Rp 25,411 miliar. Demikian diungkapkan Presdir DSUC, Bonifasius dalam paparan publik yang berlangsung di Hotel Peninsula Jakarta, Rabu,(16/6/2004). Menurut Bonafasius, kenaikan laba bersih dan penjualan yang diperoleh itu dengan asumsi, harga plywood dunia naik dari 290 dolar AS per MSF (meter square feet) menjadi 420 dolar AS. Kedua, adanya penghematan biaya terutama biaya listrik karena telah membangun pembangkit listrik sendiri. Sehingga bisa menghemat sekitar Rp 6 miliar per tahun, karena sebelum ada pembangkit dana yang dikeluarkan Rp 18 miliar sedangkan saat ini Rp 12 miliar. Ketiga, adanya penghematan biaya tenaga kerja karena terjadi pengurangan karyawan dari 4.000 menjadi 3.500 orang. Sampai akhir Maret 2004 perseroan telah membukukan penjualan sebesar Rp127 miliar atau relatif stagnan dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 126 miliar. Sedangkan laba bersih per Maret 2004 mencapai Rp 2 miliar dibanding periode sama tahun lalu yang rugi bersih Rp 6 miliar. Sampai Mei 2004 perseroan juga membukukan penjualan Rp 214 miliar dengan margin kotor sekitar 28 persen. "Berdasarkan perfomance tersebut, saya yakin bisa kita capai target tahun ini. Karena, kenaikan kinerja tersebut lebih disebabkan adanya efisiensi, bukan karena kenaikan kurs rupiah," katanya. DSUC menetapkan kurs rupiah tahun ini Rp 8.500 per dolar AS. Perseroan juga melakukan efisiensi biaya listrik sekitar 30-40 persen lewat pembangunan pembangkit listrik sendiri dengan kapasitas 6 MW yang membutuhkan investasi sebesar US$ 4,5 juta dari pinjaman Bank Mandiri. "Minggu depan sudah mulai beroperasi," lanjutnya. Perseroan juga akan menurunkan pinjaman dalam dolar AS kepada Bank Mandiri. Per Maret 2004, jumlah pinjaman perseroan mencapai US$ 22,381 juta. "Kita akan bayar sebesar US$ 2,794 juta yang jatuh tempo tahun ini. Hingga Juni kita sudah bayar US$ 1 juta," tuturnya. (nit/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads