Hal tersebut diungkapkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Agus Sarwono kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (9/6/2011).
"Tingkat rupiah sampai hari ini masih dalam kisaran perkiraan kita yang bermanfaat untuk menurunkan imported inflation tanpa mengganggu sumber pertumbuhan ekonomi khususnya ekspor," jelas Hartadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Demikian pula menguatnya Rupiah hingga mencapai historical level ini juga akibat melemahnya US$ terhadap seluruh mata uang dunia sehingga kita tidak perlu khawatir yang berlebihan terhadap berkurangnya daya saing," katanya.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap sempat mencapai nilai yang terkuatnya selama 7 tahun belakangan, yakni sempat di level Rp 8.500/US$ pada awal pekan ini.
Pada perdagangan Kamis (9/6/2011) kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di Rp 8.521 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.515 per dolar AS.
(dru/qom)











































