Yunani Setujui Paket Penghematan, Euro Melambung

Yunani Setujui Paket Penghematan, Euro Melambung

- detikFinance
Kamis, 30 Jun 2011 10:48 WIB
Jakarta -


Satu dari dua agenda penting bagi Yunani minggu ini mencapai hasil positif. Perdana Menteri George Papandreou berhasil mendapatkan suara mayoritas parlemen, 155 berbanding 138, atas kebijakan penghematan 5 tahun senilai 28 miliar euro yang banyak menuai aksi protes hingga memicu kerusuhan.

Hasil positif tersebut menghapus sebagian kekhawatiran mengenai ancaman default (gagal bayar) Yunani atas hutang-hutangnya. Yunani mesti menerapkan langkah-langkah penghematan sebagai syarat turunnya kucuran dana bantuan senilai 12 miliar euro dari Uni Eropa dan IMF. Parlemen, meski demikian, masih harus melalui satu lagi agenda penting hari ini, membahas undang-undang yang merinci detil implementasi paket penghematan.

Kanselir Jerman Angela Merkel di Berlin mengatakan bahwa disetujuinya paket penghematan tersebut adalah langkah penting bagi Yunani dan stabilitas euro secara keseluruhan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terhadap dollar, euro berlanjut menguat hingga mencapai level tertinggi sejak 15 Juni. Ditutup di kisaran 1.4431 pada akhir sesi, euro terhitung menguat sekitar 0,5 persen terhadap dollar dari level pembukaan.

Penguatan euro juga didukung oleh ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Eropa, ECB, tanggal 7 Juli mendatang. Presiden ECB Jean-Claude Trichet sebelumnya telah mengindikasikan bahwa ECB siap menaikkan suku bunga meski sebagian negara anggota Zona Euro masih dibelit krisis hutang.

Trichet kembali menyebutkan frasa strong vigilance pada pernyataannya hari Selasa (28/6) lalu. Sepanjang masa jabatan Trichet, hanya sekali ECB tidak menaikkan suku bunga setelah Trichet menyebutkan frasa tersebut untuk menjelaskan bagaimana sikap ECB terhadap ancaman inflasi.

Perkembangan-perkembangan positif Eropa semakin menambah risk-appetite para pelaku pasar. Dampaknya, mata uang-mata uang yang sebelumnya tertekan oleh terkikisnya risk-appetite pun berbalik menguat versus dollar. Sebaliknya, mata uang safe-haven yang sebelumnya diuntungkan, kini berbalik melemah.

Poundsterling naik ke level tertinggi dalam sepekan terakhir dan ditutup menguat 0,4 persen di kisaran 1.6061 terhadap dollar. Demikian pula dollar Australia, melonjak hingga level tertinggi sejak 15 Juni untuk kemudian ditutup menguat 1,3 persen di 1.0672 terhadap dollar.

Sedangkan franc Swiss terkoreksi sekitar 0,3 persen dengan diperdagangkan di kisaran 0.8345 per dollar pada akhir sesi. Dalam hal ini, melemahnya franc juga dipicu oleh lemahnya data barometer ekonomi Swiss dari KOF yang dirilis kemarin, mengindikasikan penguatan franc dan krisis hutang Eropa berdampak negatif bagi perekonomian Swiss.

Dengan berkurangnya sebagian kekhawatiran mengenai Eropa, masalah yang dihadapi perekonomian AS pun kembali menonjol. Di samping indikasi melambatnya pertumbuhan ekonomi AS yang dapat memaksa Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ekstra longgarnya untuk jangka waktu yang lebih lama, pemerintah AS juga masih harus mencapai titik temu mengenai peningkatan debt-ceiling (pagu hutang).

Usulan partai Demokrat untuk menaikkan batas pagu hutang AS dihadang partai Republik yang berpendapat tidak ada gunanya menambah pagu hutang jika hanya akan dipakai untuk pembiayaan-pembiayaan yang tidak produktif. Presiden Barack Obama kemarin mengatakan gagal tercapainya kesepakatan mengenai pagu hutang dapat berdampak signifikan bagi perekonomian AS dan dunia. (atz)




(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads