Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, merosotnya bursa di beberapa negara terjadi karena kondisi ekonomi yang buruk di AS dan Eropa.
"Saya kira ini fenomena global, jadi tidak usah panik. Ini imbas dari apa yang terjadi di AS dan Eropa tidak menyentuh sama sekali fundamental bursa saham kita," ujar Hatta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimanapun, flight to quality, dana itu akan mengalir ke tempat yang berkualitas. Oleh karena itu, Indonesia atau emerging country itu memiliki kualitas, maka flight dia akan ke tempat-tempat itu," tambahnya.
Sekali lagi ditegaskan, langkah yang perlu diambil adalah jangan menganggap enteng terhadap krisis saham tersebut. Indonesia perlu waspada akan hal ini.
"Nah sekarang pandai-pandai kiyta. Memang kita harus waspada dan jangan anggap enteng, kita harus waspada. Kita itu punya instrumen, ada sesuatu yang kita lakukan. Tapi, sejauh ini tidak perlu panik. Quality ada di kita," tegas Hatta.
Pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (8/8/2011), IHSG terjun bebas 195,861 poin (5,00%) ke level 3.725,782. Sementara Indeks LQ 45 anjlok 31,250 poin (4,55%) ke level 661,773.
Koreksi masif yang kembali diderita IHSG ini sudah setara dengan koreksi yang terjadi pada krisis tahun 2008 lalu jika dilihat dari persentasenya. Tekanan jual yang sangat hebat membuat indeks harus puas menjadi bulan-bulanan investor.
Seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) 'terbakar' di zona merah dengan rata-rata melemah lebih dari 5%, bahkan ada yang sampai 6% yaitu sektor properti.
Aksi ambil untung ini dilakukan investor untuk mengamankan portofolionya agar tidak ikut jatuh semakin dalam. Aksi ini dilakukan oleh investor asing dan lokal.
Penurunan yang terjadi di bursa-bursa Asia pun semakin dalam, IHSG kembali menjadi pasar modal yang jatuh paling dalam siang ini. Turunnya peringkat utang AS dan krisis Eropa yang berkepanjangan memberi sentimen negatif yang cukup signifikan.
(nrs/dnl)











































